Ntvnews.id, Jakarta - Kualitas udara di Jakarta pada Minggu pagi, 3 Mei 206, dilaporkan berada dalam kategori tidak sehat dan menjadi yang terburuk di dunia. Berdasarkan data dari laman IQAir pada pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta mencapai angka 182.
Tingginya angka tersebut dipengaruhi oleh konsentrasi partikel halus PM2.5 yang tercatat sebesar 100 mikrogram per meter kubik. Kondisi ini dinilai berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan.
Seiring dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kesehatan, termasuk dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna meminimalkan paparan polusi udara.
Selain Jakarta, sejumlah kota lain juga mencatat kualitas udara buruk, di antaranya Dhaka di Bangladesh dengan indeks 153, diikuti Lahore di Pakistan dengan angka 135, serta Baghdad di Irak yang mencatat indeks 134.
Baca Juga: Ancaman Reklamasi dan Polusi Bayangi Ekosistem Lamun, BRIN Soroti Dampak Emisi Dan Ekonomi Pesisir
Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan langkah cepat dalam menghadapi potensi peningkatan pencemaran udara selama musim kemarau yang diperkirakan berlangsung mulai awal Mei hingga Agustus.
Upaya tersebut meliputi peningkatan kualitas sistem pemantauan udara serta pelaksanaan uji emisi kendaraan bermotor sebagai salah satu sumber utama polusi.
Pemprov DKI juga terus mengevaluasi Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) dengan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti tren PM2.5, beban emisi dari tiap sektor, hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Kawasan Rendah Emisi Strategi Pemprov DKI Tekan Polusi Udara
Menurut pemerintah daerah, penanganan pencemaran udara tidak dapat dilakukan secara parsial oleh satu wilayah saja, melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor dan kerja sama antarwilayah di sekitar Jakarta.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Sejumlah pekerja memakai masker saat jam pulang kantor di kawasan Sudirman, Jakarta. ANTARA FOTO/Reno Esnir. (Antara)