Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar mengatakan bahwa keberhasilan di sektor ekonomi kreatif tidak selalu ditentukan oleh modal besar atau koneksi luas. Menurutnya, faktor terpenting justru adalah kemauan, kreativitas, dan keberanian untuk menunjukkan karya kepada publik.
Hal tersebut disampaikan Irene saat berdiskusi dalam acara Rakernas Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) 2026 yang digelar di Nusantara Ballrom, Novotel Jakarta Pulomas, Jumat, 6 Maret 2026.
Irene mengungkapkan bahwa banyak orang sering merasa tidak bisa memulai bisnis kreatif karena menganggap tidak memiliki modal, jaringan, atau ide. Padahal menurutnya, kondisi tersebut sering kali hanya menjadi hambatan psikologis atau self-sabotage.
"Tapi saya nggak punya modal, nggak punya koneksi, dan nggak punya ide. Biasanya kan begitu kan?," ucapnya.
Ia menilai setiap individu perlu terlebih dahulu menilai apakah keterbatasan tersebut benar-benar hambatan nyata atau hanya persepsi yang membatasi diri sendiri.
Menurut Irene, perkembangan teknologi digital justru membuka peluang besar bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia untuk menembus pasar global.
Ia mencontohkan industri game developer Indonesia yang sebagian besar justru memperoleh pendapatan dari pasar luar negeri. Bahkan banyak pengembang gim lokal yang mampu menghasilkan pendapatan jutaan dolar tanpa harus memiliki jaringan internasional yang luas.
Platform digital seperti Discord, Roblox, hingga Minecraft kini menjadi ruang baru untuk membangun jaringan global dan mempromosikan karya kreatif.
Irene (Ntvnews.id/Adiansyah)
"Tapi tau nggak kalau misalnya game developer Indonesia banyak juga yang sembilan puluh-an persen daripada mereka punya income itu sebenernya dari luar negeri? Dan itu bukan angka yang kecil, berjuta-juta US Dollars juga per games gitu lho," ungkapnya.
Selain itu, Irene menilai kemajuan teknologi membuat hambatan modal semakin kecil. Indonesia sendiri memiliki salah satu tingkat penetrasi telepon seluler tertinggi di dunia.
Dengan hanya satu perangkat ponsel, seseorang sudah bisa menciptakan berbagai karya kreatif, terlebih dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin mempermudah proses produksi konten.
"Sebenernya dengan satu mobile phone saja kita mau berkarya seperti apa itu juga bisa toh apalagi dengan ada era AI sekarang. Jadi buat saya pertanyaannya hanya: how hungry are you, sih? Gitu lho. Kalo misalnya kita beneran mau, di mana ada kemauan di sana pasti ada jalan," ungkapnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku ekonomi kreatif, Kementerian Ekonomi Kreatif berupaya menyediakan panggung bagi para kreator untuk menampilkan karya mereka.
Irene mencontohkan berbagai acara nasional yang memberikan kesempatan bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk tampil, termasuk dalam perayaan festival besar yang menghadirkan talenta dari berbagai usia.
Mulai dari anak-anak hingga pelaku seni berusia lanjut, semuanya diberi ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka di panggung nasional yang bahkan mendapat sorotan media internasional.
Untuk memperkuat ekosistem kreatif, Kementerian Ekonomi Kreatif juga meluncurkan program Ekraf Hunt, sebuah platform yang berfungsi sebagai database talenta kreatif Indonesia.
Irene mengajak para kreator Indonesia untuk tidak ragu menampilkan karya mereka kepada publik. Ia menilai budaya terlalu rendah hati sering membuat banyak talenta kreatif enggan mempromosikan karyanya.
Padahal, dengan menampilkan karya di ruang publik, kreator dapat memperoleh masukan dari pasar yang justru membantu meningkatkan kualitas karya mereka.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar di Gekrafs 2026 (Ntvnews.id/Adiansyah)