Bahlil: Indonesia Alokasikan USD15 Miliar untuk BBM dan LPG dari AS dalam Kesepakatan Dagang Baru

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Feb 2026, 06:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (Istimewa)

Ntvnews.id, Washingtin D.C - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memaparkan detail kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat yang merupakan bagian dari perjanjian antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump. Kesepakatan ini mencakup komitmen pembelian komoditas energi oleh Indonesia dari AS.

"Untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan kita, kami dari ESDM akan membelanjakan kurang lebih USD15 miliar, terdiri dari membeli BBM jadi, elpiji, dan sudah barang tentu ini merupakan langkah sejarah baru," kata Bahlil, Jumat, 20 Februari 2026.

Bahlil menegaskan pembelian tersebut dilakukan dari Amerika Serikat, namun tidak berarti Indonesia akan meningkatkan total volume impor energi. Menurut dia, pemerintah hanya akan mengalihkan sumber impor dari negara lain ke AS.

"Kita menggeser volume impor kita dari beberapa negara," kata Bahlil.

Baca Juga: Bahlil Tegaskan Impor Energi AS Rp252 Triliun Bukan Tambahan, Hanya Alih Sumber

Pengalihan impor tersebut terutama berasal dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan Afrika. Meski demikian, ia memastikan kuota pembelian BBM secara keseluruhan tidak berubah karena hanya terjadi pergeseran sumber pasokan.

"Pembelian ini akan mempertahankan mekanisme ekonomi yang saling menguntungkan," tegas Bahlil.

Sementara itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump telah menandatangani kesepakatan dagang di Washington DC pada Kamis, 19 Februari 2026. Kesepakatan tersebut merupakan perjanjian perdagangan timbal balik yang mencerminkan komitmen kedua negara dalam memperkuat hubungan ekonomi.

"Kedua pemimpin menyampaikan kepuasan atas langkah-langkah cepat dan berkelanjutan yang telah dilakukan oleh kedua negara, serta menegaskan komitmen kuat untuk mengimplementasikan kesepakatan besar tersebut," kata Teddy dikutip dari Antara, Jumat, 20 Februari 2026.

Menurut Teddy, kesepakatan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi, mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, serta memberikan kontribusi berkelanjutan terhadap kesejahteraan global.

x|close