Utang Luar Negeri RI Naik, Kini Tembus Rp8.246 Triliun

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Okt 2026, 14:18
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Tumpukan uang Rupiah Tumpukan uang Rupiah

Ntvnews.id, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyampaikan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar 459,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp8.246 triliun dengan asumsi kurs Rp17.954 per dolar AS.

Adapun angka utang luar negeri tersebut secara tahunan tumbuh sebesar 5,6 persen (yoy). 

"Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah penurunan ULN swasta," tulis Bank Indonesia dalam keterangan tertulis, Kamis 15 Oktober 2026.

Lebih lanjut, posisi ULN pemerintah pada Agustus 2026 tercatat 220,9 miliar dolar AS atau tumbuh sebesar 3,3 persen (yoy).

Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) yang mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Baca juga: Utang Luar Negeri Indonesia Naik Tipis ke 454,8 Miliar Dolar AS per Juli 2026

"Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal," jelasnya.

Bank Indonesia menjelaskan sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan ULN.

Adapun ULN pemerintah dimanfaatkan untuk pembiayaan berbagai sektor ekonomi, antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22 persen dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,7 persen); Jasa Pendidikan (16,2 persen); Konstruksi (11,4 persen); serta Transportasi dan Pergudangan (8,5 persen).

Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen pada instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejalan dengan strategi operasi moneter pro-market dalam mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah.

Baca juga: Bank Indonesia Catat Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.093 Triliun

Bergeser ke posisi ULN swasta pada Agustus 2026 tercatat sebesar 195,6 miliar dolar AS, atau terkontraksi sebesar 0,8 persen (yoy).

Perkembangan tersebut didorong oleh penurunan ULN kelompok peminjam bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) dan lembaga keuangan (financial corporations) yang masing-masing mengalami kontraksi sebesar 0,8 persen (yoy) dan 0,6 persen (yoy).

Berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta terutama berasal dari Sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian dengan pangsa mencapai 80,5 persen dari total ULN swasta.

"Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 30,9 persen pada Agustus 2026 dan didominasi oleh ULN jangka panjang," bebernya.

Bank Indonesia menegaskan posisi ULN pemerintah juga tetap sehat tecermin pada hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang.

ULN swasta juga didominasi oleh utang jangka panjang. Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan dan pengelolaan ULN sehingga optimal dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

x|close