Ntvnews.id, Jakarta - Berapa lama remaja menghabiskan waktu bersama chatbot AI seperti ChatGPT? OpenAI mengungkapkan, rata-rata remaja menggunakan ChatGPT kurang dari 15 menit setiap hari.
Sementara itu, kurang dari 2 persen pengguna remaja tercatat berinteraksi dengan chatbot selama lebih dari tiga jam secara terus-menerus.
Dikutip dari News AZ International, Kamis (8/10/2026), data tersebut disampaikan OpenAI dalam laporan pertamanya mengenai penggunaan ChatGPT oleh remaja.
Laporan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap dampak chatbot kecerdasan buatan terhadap kesehatan mental dan perkembangan anak muda.
Menurut OpenAI, hampir setengah dari percakapan yang memunculkan pengingat untuk beristirahat berakhir dengan pengguna remaja mengambil jeda atau mengakhiri percakapan dalam waktu lima menit.
OpenAI melihat data tersebut sebagai salah satu indikasi bahwa fitur yang dirancang untuk membantu mengatur penggunaan ChatGPT oleh remaja mulai memberikan dampak.
Perusahaan juga menyebut pengguna versi khusus remaja lebih banyak memanfaatkan ChatGPT untuk kebutuhan pendidikan. Mereka antara lain menggunakan fitur visualisasi pembelajaran dan Mode Belajar untuk mendukung aktivitas akademis.
Ke depan, OpenAI berencana menambah sejumlah fitur yang berorientasi pada pendidikan. Salah satunya adalah alat untuk membantu siswa merencanakan pendaftaran perguruan tinggi, termasuk mengelola persyaratan, tenggat waktu, hingga informasi bantuan keuangan.
OpenAI juga tengah mengembangkan sejumlah alat bantu belajar lain, seperti kartu flash dan fitur yang memudahkan pengguna membuat kuis.
ChatGPT untuk Remaja Dilengkapi Pengamanan
OpenAI mulai meluncurkan ChatGPT untuk Remaja pada Agustus 2026. Mode tersebut dapat diaktifkan berdasarkan informasi usia pengguna atau ketika sistem memperkirakan pengguna berusia di bawah 18 tahun.
Versi ini dilengkapi sejumlah perlindungan tambahan, termasuk kontrol orang tua dan pembatasan percakapan yang berkaitan dengan topik sensitif. Meski demikian, efektivitas sistem pengamanan tersebut masih menjadi perhatian.
Laporan yang dirilis organisasi nirlaba Common Sense Media pada hari yang sama menyebut ChatGPT untuk Remaja belum secara konsisten memberikan peringatan kepada orang tua ketika akun uji coba terlibat dalam percakapan mengenai bunuh diri, menyakiti diri sendiri, atau gangguan makan.
Baca Juga: Hacker China Menyamar Jadi Pakar AI AS, Incar Email Ahli dan Pejabat
Dalam beberapa kasus, menurut organisasi tersebut, peringatan baru muncul setelah terjadi jeda waktu yang cukup lama.
Common Sense Media mengatakan temuannya didasarkan pada pengujian terhadap lebih dari selusin akun.
Organisasi tersebut juga menyebut chatbot tidak selalu memberikan rekomendasi mengenai layanan krisis atau bantuan profesional dalam situasi yang dianggap berisiko.
OpenAI membantah bahwa hasil pengujian tersebut sepenuhnya menggambarkan sistem pengamanan yang berlaku saat ini.
Perusahaan mengatakan akun uji yang digunakan Common Sense Media tidak secara akurat mencerminkan cara kerja perlindungan ChatGPT untuk remaja.
OpenAI menjelaskan, sejumlah pertimbangan teknis dan keamanan membuat proses menghubungkan akun orang tua dengan akun remaja serta mengaktifkan peringatan keselamatan dapat membutuhkan waktu hingga beberapa jam.
Perusahaan juga mengatakan sebagian pengujian kemungkinan dilakukan sebelum seluruh fitur kontrol orang tua aktif sepenuhnya.
Common Sense Media, di sisi lain, menyatakan beberapa akun uji mereka memang tetap terhubung dalam waktu cukup lama, sementara akun lainnya tidak.
Namun, organisasi tersebut mengaku tidak menemukan peringatan yang muncul secara tepat waktu dalam pengujiannya.
Menurut Common Sense Media, notifikasi justru muncul pada akun yang memiliki riwayat percakapan selama beberapa minggu dan sebelumnya membahas topik sensitif.
Perbedaan temuan tersebut memperlihatkan tantangan yang masih dihadapi perusahaan teknologi dalam menerapkan perlindungan bagi pengguna usia muda.
Di tengah semakin luasnya penggunaan chatbot AI oleh anak-anak dan remaja, perhatian kini tidak hanya tertuju pada seberapa sering teknologi tersebut digunakan, tetapi juga seberapa efektif sistem dapat mengenali dan merespons percakapan yang berpotensi membahayakan pengguna.
Ilustrasi. OpenAI. (Foto: Reuters)