Tak Gantikan Peran Dokter, AI Hadir Sebagai "Asisten Pintar" Medis di Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Sep 2026, 14:17
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis & Editor
Bagikan
Praktisi industri kesehatan, Erwin Tenggono dalam program "Merah Putih Paradoks Indonesia" di Nusantara TV, 28 Agustus 2026 yang dipandu host Maria Anneke. Praktisi industri kesehatan, Erwin Tenggono dalam program "Merah Putih Paradoks Indonesia" di Nusantara TV, 28 Agustus 2026 yang dipandu host Maria Anneke.

Ntvnews.id, Jakarta - Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di sektor medis terus memicu perdebatan hangat mengenai potensi tergantikannya peran tenaga medis manusia.

Namun, para praktisi menegaskan teknologi ini hadir bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai alat bantu (enabler) untuk meningkatkan kompetensi dokter.

Praktisi industri kesehatan, Erwin Tenggono menekankan adanya batasan fundamental yang tidak bisa dimiliki oleh teknologi AI.

Menurutnya, seorang dokter memiliki aspek manusiawi yang utuh, mulai dari empati, ketenangan emosional, hingga penilaian klinis (critical judgement) yang instingtif saat berhadapan langsung dengan pasien

"Saya tidak berpikir AI akan menggantikan dokter, melainkan membantu. Dokter yang menggunakan AI akan memiliki kemampuan analisis dan pemeriksaan yang jauh lebih baik serta lebih ampuh dibandingkan yang tidak menggunakannya," ujar Erwin dalam program Merah Putih di Nusantara TV, 

Meski demikian, Erwin juga menyoroti pekerjaan rumah besar di Indonesia, yakni belum adanya tata kelola medis serta regulasi etika yang jelas terkait validasi diagnosis menggunakan AI, terutama di kalangan dokter muda

Di sisi lain, tantangan kesiapan teknologi dalam negeri juga diulas oleh AC Mahendra K. Datu, seorang Innovation Designer.

Mahendra membagikan pengalamannya saat menghadiri program Global AI for Health dari Nvidia di Santa Clara.

Di sana, AI digunakan secara spesifik untuk mendampingi dokter spesialis radiologi guna meminimalkan risiko kesalahan pendeteksian tanda penyakit akibat kelelahan fisik

Namun, Mahendra mengungkapkan, implementasi AI di Indonesia saat ini masih sangat terbatas pada fitur dasar tanya jawab (Q&A).

Dia memperkirakan kesiapan adopsi teknologi medis Indonesia masih tertinggal cukup jauh

"Jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya, kita mungkin tertinggal sekitar 5 hingga 10 tahun. Saat ini kita masih dalam tahap mengadopsi. Terlebih lagi, mesin AI yang ada sekarang mayoritas dilatih dengan data dari barat sehingga belum optimal untuk mendeteksi penyakit khas daerah tropis seperti malaria," tukas Mahendra.

x|close