Pakar Sebut Persepsi Buruk Ekonomi Tidak Mencerminkan Kondisi Riil Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Jul 2026, 12:06
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Perajin menyelesaikan pembuatan batik rambutan di Rumah Tan Collection, Kota Binjai, Sumatera Utara, Sabtu, 25 Juli 2026. Bank Indonesia menyatakan UMKM masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang berkontribusi sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan telah menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja dengan memperoleh akses pembiayaan yang lebih luas guna meningkatkan produktivitas dan daya saing usaha. Perajin menyelesaikan pembuatan batik rambutan di Rumah Tan Collection, Kota Binjai, Sumatera Utara, Sabtu, 25 Juli 2026. Bank Indonesia menyatakan UMKM masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang berkontribusi sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan telah menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja dengan memperoleh akses pembiayaan yang lebih luas guna meningkatkan produktivitas dan daya saing usaha. (Antara)

Ntvnews.id, JakartaPakar ekonomi Surya Vandiantara menilai hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyebut 49,4 persen responden menganggap kondisi ekonomi Indonesia buruk atau sangat buruk tidak dapat dijadikan tolok ukur utama untuk menggambarkan kondisi perekonomian nasional.

Menurut Surya, survei tersebut lebih menggambarkan persepsi masyarakat terhadap ekonomi, bukan kondisi nyata berdasarkan indikator ekonomi.

"Hasil survei SMRC tidak bisa dijadikan alat ukur untuk menilai kondisi riil perekonomian Indonesia, akan tetapi dari hasil survei SMRC kita dapat menyimpulkan bahwa penilaian masyarakat terhadap keberhasilan pemerintah di bidang ekonomi masih rendah," kata dia dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.

Surya menjelaskan terdapat perbedaan antara persepsi masyarakat yang terekam dalam survei dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Salah satu indikator yang menunjukkan kondisi positif adalah neraca perdagangan.

Baca JugaS&P Pertahankan Rating Indonesia, Pakar: Bukti Kepercayaan Global ke Ekonomi RI Masih Kuat

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), selama satu tahun penuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 2025, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 41,05 miliar dolar AS.

"Surplus neraca perdagangan ini melanjutkan tren positif yang dicapai pada pada era pemerintahan sebelumnya di tahun 2023 sebesar 36,93 miliar dolar AS dan tahun 2024 sebesar 31,04 miliar dolar AS," ujar Surya.

Selain neraca perdagangan, Surya menyebut pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) juga menunjukkan perkembangan positif selama 2025. Menurutnya, data tersebut menunjukkan ekonomi Indonesia tetap mengalami pertumbuhan.

"BPS mencatatkan pertumbuhan ekonomi kumulatif (cumulative-to-cumulative/c-to-c) tahun 2025 mencapai 5,11 persen. Bertumbuh dari tahun 2024 sebesar 5,03 persen dan tahun 2023 5,05 persen," ucapnya.

Baca JugaPelemahan Rupiah Picu Kenaikan Harga Impor dan BBM, Ini Penjelasan Pakar

Indikator lain yang menunjukkan stabilitas ekonomi, lanjut Surya, adalah cadangan devisa. Mengacu laporan Bank Indonesia (BI), cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat sebesar 145,6 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan posisi akhir Mei 2026 yang berada di angka 144,9 miliar dolar AS.

"Ketiga indikator fundamental perekonomian ini baik neraca perdagangan, PDB maupun cadangan devisa merupakan indikator utama yang menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia stabil dan terus bergerak maju," katanya.

Melihat sejumlah indikator tersebut, Surya menilai persoalan utama bukan terletak pada kinerja ekonomi, melainkan kurangnya penyampaian informasi mengenai capaian ekonomi kepada masyarakat.

"Sehingga yang perlu dilakukan bukanlah menganulir hasil survei SMRC ataupun membuat survei tandingan, melainkan lebih proaktif dalam menyampaikan keberhasilan yang sebenarnya sudah dicapai," ucapnya.

Ia menilai kementerian dan lembaga yang bergerak di sektor ekonomi masih perlu meningkatkan penyampaian informasi mengenai berbagai capaian yang telah diraih agar dapat diketahui masyarakat secara luas.

"Permasalahan inilah yang akhirnya menyebabkan penilaian masyarakat terhadap ekonomi Indonesia menjadi rendah," kata Surya.

(Sumber: Antara)

x|close