BNI Cermati Potensi Dampak Kenaikan BI-Rate Terhadap Permintaan Kredit

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Jun 2026, 21:59
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Petugas Bank Negara Indonesia (BNI) memberi layanan perbankan kepada nasabah. (ANTARA/HO-BNI.) Ilustrasi - Petugas Bank Negara Indonesia (BNI) memberi layanan perbankan kepada nasabah. (ANTARA/HO-BNI.) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI terus memantau potensi pengaruh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) terhadap permintaan kredit. Perhatian khusus diberikan pada sektor-sektor usaha yang dinilai lebih sensitif terhadap perubahan biaya pendanaan.

Perseroan menyatakan akan menyesuaikan strategi bisnis secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi makroekonomi, arah kebijakan moneter, serta kebutuhan pembiayaan nasabah.

“Kami terus memperkuat governance, manajemen risiko, dan kapabilitas digital agar tetap mampu memberikan layanan terbaik kepada nasabah sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fondasi yang kuat tersebut, BNI optimistis dapat terus mendukung sektor riil dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.

Di tengah perubahan suku bunga, BNI juga mempercepat transformasi digital guna meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan kepada nasabah. Teknologi dimanfaatkan dalam berbagai lini bisnis, mulai dari pengembangan layanan perbankan, peningkatan pengalaman nasabah, hingga optimalisasi proses penyaluran kredit agar lebih cepat dan efektif tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.

Selain transformasi digital, perseroan terus memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) serta manajemen risiko yang disiplin untuk menjaga kualitas aset dan ketahanan bisnis.

BNI juga melakukan pemantauan secara konsisten terhadap portofolio kredit, tingkat risiko, kondisi likuiditas, serta perkembangan ekonomi dan pasar sebagai bagian dari langkah mitigasi risiko yang berkelanjutan.

Secara umum, perseroan menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen merupakan langkah yang bertujuan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, BNI menegaskan tetap menjalankan fungsi intermediasi secara selektif dan produktif untuk mendukung aktivitas sektor riil.

Menurut Okki, kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia menunjukkan respons yang terukur dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, sekaligus memperkuat kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Kami memandang kenaikan BI-Rate sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. Stabilitas yang terjaga menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan sektor riil maupun industri perbankan,” ujar Okki.

Ia menambahkan bahwa stabilitas makroekonomi merupakan faktor penting agar industri perbankan dapat menjalankan fungsi intermediasi secara sehat dan berkesinambungan.

Dengan kondisi pasar yang lebih stabil, perbankan memiliki ruang yang lebih baik untuk menjaga penyaluran kredit secara prudent, selektif, dan produktif.

Ke depan, BNI akan terus mencermati perkembangan ekonomi makro serta arah kebijakan moneter guna memastikan strategi bisnis tetap adaptif terhadap berbagai perubahan kondisi.

Perseroan juga menegaskan komitmennya menjaga kinerja yang berkelanjutan melalui dukungan permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta pengelolaan risiko yang prudent, sekaligus berkontribusi terhadap stabilitas sistem keuangan nasional.

(Sumber: Antara)

x|close