Rupiah Menguat ke Rp17.900 per dolar AS Seiring Kebijakan Kenaikan BI Rate

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Jun 2026, 10:50
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Warga menjual mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Debe money changer, Banda Aceh, Aceh. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/Spt. Ilustrasi - Warga menjual mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Debe money changer, Banda Aceh, Aceh. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/Spt. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu pagi, 10 Juni 2026, bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Adapun mata uang Garuda tercatat naik 158 poin atau 0,88 persen ke level Rp17.900 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah masih ditopang sentimen kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), khususnya kenaikan suku bunga acuan yang baru ini dilakukan.

Menurutnya, langkah BI yang menjadwalkan rapat lanjutan memunculkan ekspektasi bahwa bank sentral masih berpotensi bersikap agresif dalam pengetatan kebijakan moneter ke depan. 

"Rupiah diperkirakan masih berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah BI menaikkan suku bunga serta menjadwalkan rapat mingguan kedepannya memicu harapan BI masih akan agresif menaikkan suku bunga kedepannya," ucap Lukman, Rabu 10 Juni 2026.

Baca juga: Rupiah Hancur, DPR: Jangan Salahkan The Fed dan Perang Terus

Arsip foto - Warga menunjukan uang rupiah baru yang baru saja ditukarkan pada mobil kas keliling Bank Indonesia (BI) di Pasar Palmerah, Jakarta, Senin, 18 Maret 2024. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Warga menunjukan uang rupiah baru yang baru saja ditukarkan pada mobil kas keliling Bank Indonesia (BI) di Pasar Palmerah, Jakarta, Senin, 18 Maret 2024. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal. (Antara)

Baca juga: DEN Dukung Kenaikan BI-Rate ke 5,50 Persen, Nilai Efektif Redam Tekanan Rupiah

Selain itu, kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax juga disebut turut memberi sentimen positif terhadap mata uang domestik.

Kendati demikian, ia menilai potensi penguatan rupiah masih akan dibatasi oleh faktor eksternal, seperti eskalasi geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak mentah global yang dapat menekan stabilitas pasar keuangan.

"Langkah pemerintah menaikkan harga pertamax juga positif bagi rupiah. Namun eskalasi di Timur Tengah baru-baru ini dan kenaikan harga minyak mentah dunia mungkin akan membatasi penguatan," ungkapnya.

Adapun untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS.

x|close