SBY: UMKM Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Jun 2026, 13:51
thumbnail-author
Zaki Islami
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
SBY: UMKM Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global SBY: UMKM Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global (Zaki Islami)

Ntvnews.id, Jakarta – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Dalam pidatonya pada The 2026 Asia Grassroots Forum by Amartha di Jakarta, Kamis 4 Juni 2026, SBY mengatakan dunia saat ini memasuki era baru yang ditandai dengan meningkatnya rivalitas geopolitik, perang dan konflik di berbagai wilayah, serta perubahan rantai pasok global yang memengaruhi perekonomian dunia.

Menurut SBY, Indonesia dan negara-negara ASEAN memiliki modal penting untuk menghadapi tantangan tersebut, yakni keberadaan jutaan pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian kawasan.

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menilai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. <b>(Zaki Islami)</b> Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menilai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. (Zaki Islami)

"Ketika guncangan global terjadi, sistem bisa melemah, investasi menjadi lebih berhati-hati, dan pasar internasional berfluktuasi. Namun, komunitas akar rumput tetap beradaptasi, bertahan, dan bangkit kembali. Untuk itu, pemberdayaan UMKM bukan sekadar agenda sosial, melainkan agenda ekonomi yang strategis," ujar SBY.

Ia menjelaskan bahwa jutaan UMKM di berbagai negara ASEAN, mulai dari Indonesia, Vietnam, Filipina hingga Thailand, menopang aktivitas ekonomi sehari-hari melalui sektor perdagangan, manufaktur skala kecil, pertanian, perikanan, logistik, hingga usaha berbasis digital.

SBY menegaskan bahwa negara yang mampu memperkuat kewirausahaan akan memiliki ketahanan ekonomi yang lebih kuat, partisipasi ekonomi yang lebih luas, serta stabilitas sosial yang lebih baik.

Pandangan tersebut, lanjutnya, didasarkan pada pengalaman Indonesia menghadapi berbagai krisis besar, mulai dari krisis ekonomi Asia 1997–1998, tsunami Aceh 2004, hingga krisis keuangan global 2008. Dari berbagai peristiwa tersebut, ia menilai salah satu pelajaran penting adalah pentingnya menjaga masyarakat tetap aktif secara ekonomi, terhubung secara sosial, dan memiliki harapan terhadap masa depan.

Selain menyoroti peran UMKM, SBY juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk memperluas inklusi ekonomi di negara berkembang. Menurut dia, layanan keuangan digital, perdagangan elektronik, dan berbagai platform digital telah membuka akses yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil terhadap pasar, pembiayaan, dan peluang usaha.

Meski demikian, SBY mengingatkan bahwa perkembangan teknologi juga berpotensi memperlebar kesenjangan apabila akses dan manfaatnya hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

"Transformasi digital harus berjalan seiring dengan upaya memperluas inklusi agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara merata," kata SBY.

Ia berharap penguatan UMKM dan perluasan akses teknologi dapat menjadi fondasi bagi negara-negara ASEAN dalam membangun ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif di tengah dinamika global yang terus berkembang.

x|close