Koreksi Rupiah Faktor Musiman, Menkeu dan BI Optimis Bakal Menguat Lagi di Juli 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Mei 2026, 21:40
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons terkait kebijakan kenaikan tarif royalti komoditas mineral dan batu bara (minerba) yang ditunda Kementerian ESDM. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons terkait kebijakan kenaikan tarif royalti komoditas mineral dan batu bara (minerba) yang ditunda Kementerian ESDM. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Ntvnews.id , Jakarta - Nilai tukar rupiah yang belakangan tertekan terhadap dolar Amerika Serikat dinilai masih memiliki ruang untuk kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan. 

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kompak menilai pelemahan yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek dan faktor musiman, bukan karena persoalan fundamental ekonomi domestik.

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, tekanan terhadap rupiah tidak perlu disikapi secara berlebihan lantaran kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik. 

Baca Juga: Menkeu Beberkan Strategi Pemerintah Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah: Kita Masih Aman

Menurut dia, pemerintah saat ini lebih fokus menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan tetap terjaga.

“Nanti kita perbaiki (pelemahan Rupiah). Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek. Jadi saya fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu. Nanti kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin 18 Mei 2026.

Ia mengatakan, sebagian sentimen negatif yang membayangi rupiah muncul karena kekhawatiran bahwa kondisi saat ini menyerupai krisis 1997–1998. Namun, Purbaya menilai situasinya sangat berbeda.

Pandangan serupa juga disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Perry menjelaskan, penguatan dolar AS terhadap rupiah saat ini sebagian besar dipicu faktor musiman.

Karena itu, tekanan terhadap rupiah diperkirakan hanya bersifat sementara.

“Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran deviden, pembayaran utang,” ujar Perry di Gedung DPR RI.

BI meyakini tekanan tersebut akan mereda pada semester kedua tahun ini. Berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, nilai tukar rupiah biasanya mulai menguat pada periode Juli hingga September.

“Dari pengalaman, Juli-Agustus-September akan menguat dan kami meyakini akan kembali ke range 16.200–16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro di APBN,” kata Perry.

Keyakinan itu juga menjadi dasar BI untuk tetap menjaga stabilitas pasar keuangan tanpa mengganggu likuiditas di dalam negeri. 

Perry menegaskan, bank sentral siap melakukan langkah lanjutan untuk memperkuat rupiah apabila diperlukan.

Baca Juga: IHSG Awal Pekan Melemah, Nilai Tukar Rupiah Nyaris Tembus Rp17 Ribu

Perry menambahkan, BI juga belajar dari pengalaman krisis 1997–1998. Saat itu, fokus besar pada stabilisasi rupiah justru berujung pada pengetatan likuiditas yang memperburuk kondisi ekonomi. 

"Kami tidak mau itu, makanya beli SBN ke pasar sekunder. Ini sekaligus upaya agar tidak tidak kekeringan likuiditas, dan bagian ini untuk menarik inflow," tegas Perry.

Dengan kombinasi fundamental ekonomi yang dinilai masih kuat serta pola musiman yang diperkirakan akan mereda dalam beberapa bulan ke depan, pemerintah dan BI optimistis tekanan terhadap rupiah tidak akan berlangsung lama dan mata uang Garuda masih berpeluang kembali menguat.

x|close