Ntvnews.id, Jakarta - Produsen otomotif raksasa asal Jepang, Toyota, memperingatkan adanya "krisis besar" akibat meningkatnya persaingan dari produsen mobil China yang semakin agresif di pasar global.
Peringatan ini disampaikan oleh CEO Toyota yang akan segera lengser, Koji Sato, dalam konferensi yang dihadiri ratusan eksekutif pemasok.
Dia menegaskan jika tidak ada perubahan signifikan, Toyota berisiko kehilangan daya saingnya.
"Kecuali jika keadaan berubah, kita tidak akan bertahan. Saya ingin semua pihak menyadari krisis ini," tegas Sato, dikutip dari Drive, Kamis (2/4/2026).
Sejak menjabat pada 2023, Sato menilai Toyota masih menghadapi sejumlah kendala serius, mulai dari penarikan produk hingga gangguan rantai pasok yang menyebabkan keterlambatan produksi.
Menurutnya, salah satu solusi untuk mempercepat pengembangan mobil sekaligus menekan biaya adalah dengan melonggarkan standar kontrol kualitas pada komponen tertentu, terutama bagian kecil yang tidak terlihat oleh pengguna.
Selama ini, Toyota dikenal sangat ketat dalam menjaga kualitas, bahkan hingga detail kecil seperti perbedaan warna pada komponen elektronik atau cacat minor yang tidak terlihat. Akibatnya, ribuan komponen sering ditolak meskipun masih berfungsi dengan baik.
Sebagai contoh, setir dengan kerutan halus yang hampir tidak terlihat bisa ditolak, bahkan puluhan ribu kabel kendaraan dibuang hanya karena perubahan warna plastik.
Kini, melalui inisiatif "Smart Standard Activity", Toyota mulai mengubah pendekatan dengan lebih menekankan fungsi dibandingkan aspek visual semata.
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat produksi tanpa mengorbankan kualitas utama. Meski demikian, Sato menegaskan kualitas tetap menjadi prioritas utama.
"Untuk memproduksi lebih banyak mobil, kita harus meningkatkan kualitas di setiap proses," ujarnya.
Selain itu, Toyota juga melakukan efisiensi dalam rantai pasok, termasuk menyederhanakan aturan penyimpanan cetakan dan peralatan oleh pemasok agar lebih hemat biaya.
Sementara itu, CEO baru Toyota, Kenta Kon, turut memperingatkan performa penjualan yang tinggi saat ini bukan jaminan kondisi perusahaan aman.
"Banyak yang mengira Toyota berada di posisi nyaman karena angka keuangan kami. Namun kenyataannya tidak demikian," katanya.
Dengan berbagai perubahan strategi ini, Toyota berupaya menjaga posisinya sebagai produsen mobil terbesar di dunia sekaligus menghadapi tekanan kuat dari industri otomotif China yang terus berkembang pesat.
Para karyawan bekerja di jalur perakitan mobil Yaris Cross di pabrik Toyota Motor Manufacturing France (TMMF) di Onnaing dekat Valenciennes, Prancis, 4 April 2024. (Foto: Dok/Benoit Tessier/Reuters)