Pertama Sejak 1957, Honda Alami Kerugian Besar Akibat Bisnis Mobil Listrik Hampir Rp47 Triliun

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Mei 2026, 09:17
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis & Editor
Bagikan
Ilustrasi. Logo Honda. (Foto: Dok/Anushree Fadnavis/Reuters) Ilustrasi. Logo Honda. (Foto: Dok/Anushree Fadnavis/Reuters)

Ntvnews.id, Jakarta - Honda Motor Co. mencatat kerugian bersih sebesar 423,94 miliar yen atau hamper sekitar Rp47 triliun (¥1 = Rp110,8) pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. 

Ini menjadi kerugian tahunan pertama Honda sejak perusahaan tersebut melantai di bursa saham pada 1957.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya ketika Honda masih membukukan laba bersih 835,84 miliar yen. 

Seperti dikutip dari Kyodo, Sabtu (16/5/2026), tekanan terbesar berasal dari restrukturisasi besar-besaran bisnis kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang membebani kinerja perusahaan.

Tak hanya laba bersih, Honda juga mencatat kerugian operasional sebesar 414,35 miliar yen. 

Padahal pada tahun sebelumnya, produsen otomotif asal Jepang itu masih mencetak laba operasional hingga 1,21 triliun yen. 

Sementara itu, penjualan secara keseluruhan hanya naik tipis 0,5 persen menjadi 21,80 triliun yen.

Presiden sekaligus CEO Honda, Toshihiro Mibe, mengaku sangat serius menyikapi kerugian tersebut.

"Tanggung jawab terbesar saya adalah segera menghentikan kerugian dan membangun struktur bisnis yang lebih kuat menghadapi ketidakpastian global," ujar Mibe dalam konferensi pers.

Penjualan di China Terpuruk

Honda menjual 3,39 juta kendaraan secara global sepanjang tahun fiskal 2025, turun 8,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Penurunan tajam terutama terjadi di China, pasar otomotif terbesar dunia.

Penjualan Honda di China bahkan terus merosot selama 27 bulan berturut-turut. Pada April 2025, penjualannya anjlok hingga 48,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, Honda masih optimistis dapat bangkit. Perusahaan memperkirakan laba bersih sebesar 260 miliar yen pada tahun fiskal berjalan dengan target penjualan mencapai 23,15 triliun yen.

Fokus ke Mobil Hybrid, Kurangi Ambisi EV

Di tengah melambatnya permintaan kendaraan listrik di Amerika Serikat (AS), Honda memutuskan menghentikan pengembangan tiga model EV untuk pasar Amerika Utara. 

Perusahaan juga membekukan rencana pembangunan pabrik EV dan baterai di Kanada.

Kerugian restrukturisasi bisnis EV Honda mencapai 1,58 triliun yen, lebih besar dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,3 triliun yen. 

Bahkan, Honda memperkirakan kerugian tambahan sebesar 500 miliar yen dari bisnis EV pada tahun ini.

Sebagai gantinya, Honda kini lebih fokus mengembangkan kendaraan hybrid. Perusahaan menargetkan meluncurkan 15 model hybrid baru hingga 2030 dan berharap mampu menjual 2,5 juta mobil hybrid secara global.

Tarif AS Ikut Menekan Honda

Kinerja Honda juga terdampak kebijakan tarif impor mobil dari Jepang yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump. 

Tarif yang sempat naik menjadi 27,5 persen itu diperkirakan memberi tekanan hingga 347 miliar yen terhadap laba operasional Honda.

Meski menghadapi tantangan berat, Honda tetap menargetkan laba operasional lebih dari 1,4 triliun yen pada tahun fiskal 2029 mendatang.

x|close