Nissan Rugi Hampir Rp59 Triliun, Tutup 7 Pabrik dan PHK 20.000 Karyawan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Mei 2026, 13:15
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Nissan Pathfinder 2023 diluncurkan di New York International Auto Show 2022, di Manhattan, New York City, Amerika Serikat, 13 April 2022. (Foto: Dok/Brendan McDermid/Reuters) Nissan Pathfinder 2023 diluncurkan di New York International Auto Show 2022, di Manhattan, New York City, Amerika Serikat, 13 April 2022. (Foto: Dok/Brendan McDermid/Reuters)

Ntvnews.id, Jakarta - Produsen otomotif asal Jepang, Nissan, mencatat kerugian besar sekitar 533 miliar yen atau sekitar Rp59 triliun (¥1 = Rp111,1) pada tahun fiskal 2025. 

Kendati demikiaan, perusahaan optimistis bisa kembali mencetak laba pada tahun depan.

Untuk menekan kerugian, Nissan mengambil langkah besar dengan menutup tujuh pabrik di berbagai negara serta menyiapkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 20.000 karyawan hingga 2027.

CEO Nissan, Ivan Espinosa, mengatakan perusahaan saat ini fokus melakukan efisiensi besar-besaran demi memulihkan kondisi keuangan.

"Kami menargetkan penghematan hingga 500 miliar yen dari biaya tetap dan variabel. Untuk biaya tetap saja, kami sudah melampaui target dengan penghematan 200 miliar yen," ujar Espinosa, seperti dilapirkan Drive, Jumat (15/5/2026).

Menurutnya, strategi tersebut dilakukan secara bertahap melalui pengurangan biaya operasional dan restrukturisasi jaringan manufaktur global Nissan.

Tarif Impor AS Jadi Beban Berat

Nissan juga mengungkapkan tarif impor kendaraan di Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu penyebab utama kerugian perusahaan. 

Kebijakan tersebut disebut membebani neraca keuangan Nissan hingga 286 miliar yen. Di sisi lain, Nissan tidak memasukkan dampak konflik Timur Tengah dalam proyeksi laba tahun fiskal 2027. 

Penjualan Turun, Nissan Tetap Optimistis

Sepanjang tahun fiskal 2025, Nissan menjual sekitar 3,15 juta kendaraan secara global, turun 5,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun perusahaan memprediksi penjualan akan kembali naik menjadi 3,3 juta unit pada tahun fiskal 2027.

Kerugian tahun ini juga sedikit membaik dibandingkan tahun fiskal 2024 yang mencapai 670,9 miliar yen. Program pemulihan Nissan yang diberi nama Re:Nissan disebut mulai menunjukkan hasil positif.

"Kami telah melewati fase pemulihan dan kini memasuki fase pertumbuhan," kata Espinosa.

x|close