Ntvnews.id, Jakarta - Tren kendaraan elektrifikasi di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring semakin luasnya pilihan New Energy Vehicle (NEV) di pasar otomotif nasional.
Di tengah perkembangan tersebut, konsumen kini dihadapkan pada berbagai teknologi kendaraan ramah lingkungan, termasuk Hybrid Electric Vehicle (HEV) dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).
Namun, tidak sedikit masyarakat yang masih bertanya-tanya: apa sebenarnya perbedaan HEV dan PHEV, serta mana yang paling sesuai untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari?
Business Unit Director JAECOO Indonesia, Jim Ma, menjelaskan meskipun keduanya berada dalam kategori teknologi hybrid, sistem kerja dan karakter penggunaannya memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
"Karakter penggunaan, sistem kerja, serta keunggulannya pun berbeda. HEV itu sendiri merupakan kendaraan yang memiliki dua sumber tenaga, yaitu mesin bensin dan daya listrik. Namun, baterainya tidak dapat diisi melalui colokan eksternal," ujar Jim Ma.
"Sedangkan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) juga menggabungkan dua sumber tenaga, yakni mesin konvensional dan motor listrik dari baterai, namun baterainya dapat diisi melalui sumber listrik eksternal sehingga kendaraan dapat beroperasi sebagai mobil listrik maupun mobil konvensional," lanjutnya.
Perbedaan tersebut terutama terlihat dari cara kerja sistem hybrid yang digunakan pada masing-masing kendaraan.
HEV: Hybrid yang Praktis Tanpa Perlu Pengisian Daya Eksternal
Pada kendaraan Hybrid Electric Vehicle (HEV), teknologi hybrid dirancang untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar tanpa mengubah kebiasaan berkendara secara signifikan.
Berikut beberapa karakteristik utama HEV:
1. Baterai Terisi Otomatis Tanpa Colokan Listrik
Energi listrik pada baterai HEV akan terisi secara otomatis melalui mesin bensin serta sistem regenerative braking, yaitu proses pengisian ulang energi saat kendaraan melakukan pengereman.
Kapasitas baterai HEV umumnya relatif kecil, sekitar 1-2 kWh, sehingga memang tidak dirancang untuk menerima pengisian daya dari sumber listrik eksternal.
2. Mesin dan Motor Listrik Bekerja Bergantian
Motor listrik biasanya bekerja saat kendaraan melaju di kecepatan rendah atau kondisi lalu lintas padat. Sementara itu, mesin bensin akan mengambil alih ketika kendaraan membutuhkan tenaga lebih besar, seperti saat melaju di jalan tol atau menanjak.
3. Lebih Hemat BBM dan Mudah Digunakan
Dengan sistem tersebut, HEV dikenal mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar dibandingkan kendaraan konvensional. Selain itu, karena tidak memerlukan pengisian daya eksternal, kendaraan ini tetap praktis digunakan di wilayah yang belum memiliki infrastruktur pengisian listrik yang memadai.
Baca Juga: JAECOO Rayakan 1 Tahun di Indonesia, Serahkan 7.000 Unit J5 EV dalam Perayaan "A Milestone of Trust"
PHEV: Bisa Berkendara dengan Mode Listrik Murni
Berbeda dengan HEV, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel dengan baterai yang dapat diisi melalui sumber listrik eksternal.
Berikut beberapa keunggulan utama PHEV:
1. Baterai Bisa Diisi Melalui Charger
Pengisian daya PHEV dapat dilakukan melalui home charging maupun Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Selain itu, PHEV menggunakan baterai dengan kapasitas lebih besar dibandingkan HEV sehingga mampu menampung energi listrik lebih banyak.
2. Mode Listrik Murni untuk Mobilitas Harian
Dengan baterai yang lebih besar, kendaraan PHEV memungkinkan pengguna berkendara dalam mode listrik murni untuk jarak tertentu sebelum mesin bensin mulai bekerja.
3. Tetap Fleksibel untuk Perjalanan Jarak Jauh
Ketika daya baterai habis, kendaraan tetap dapat beroperasi seperti mobil hybrid biasa dengan memanfaatkan mesin bensin. Fleksibilitas ini membuat PHEV cocok digunakan baik untuk mobilitas harian di perkotaan maupun perjalanan jarak jauh.
"Ketika konsumen sudah memahami perbedaan mendasar dari cara kerja dan keunggulan masing-masing sistem, langkah selanjutnya adalah menyesuaikan pilihan tersebut dengan kebutuhan mobilitas mereka," tambah Jim Ma.
JAECOO Hadirkan Teknologi Super Hybrid System
Di Indonesia, JAECOO menghadirkan teknologi Super Hybrid System (SHS) melalui model JAECOO J7 SHS-P dan JAECOO J8 SHS-P ARDIS.
Teknologi ini merupakan pengembangan dari sistem PHEV yang dirancang untuk mengintegrasikan tenaga listrik dan mesin secara lebih cerdas, sehingga menghadirkan efisiensi energi sekaligus performa yang responsif di berbagai kondisi berkendara.
Pada JAECOO J7 SHS-P, sistem ini memungkinkan kendaraan menempuh hingga sekitar 100 km dalam mode listrik murni, menjadikannya ideal untuk penggunaan harian di area perkotaan.
Sementara itu, JAECOO J8 SHS-P ARDIS menawarkan pengalaman berkendara yang lebih premium dengan dukungan hingga 19 fitur Advanced Driver Assistance System (ADAS), termasuk Adaptive Cruise Control dan Traffic Jam Assist untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan berkendara.
Perkuat Ekosistem EV di Indonesia
Sebagai bagian dari strategi elektrifikasi, JAECOO juga menghadirkan JAECOO J5 EV, kendaraan listrik murni bagi konsumen yang ingin beralih sepenuhnya ke mobilitas ramah lingkungan.
Berdasarkan data wholesales Gaikindo pada Januari 2026, JAECOO J5 EV mencatat distribusi 1.942 unit dan menjadi salah satu SUV listrik terlaris di Indonesia, sekaligus membawa JAECOO masuk ke peringkat sembilan besar merek mobil nasional.
Saat ini, JAECOO telah memiliki 25 dealer di Indonesia, termasuk pembukaan dealer terbaru di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Selain itu, perusahaan juga menyiagakan 14 Dealer Siaga di jalur utama mudik Lebaran yang dilengkapi layanan bantuan darurat 24 jam untuk memberikan kenyamanan bagi para pengguna.
JAECOO J8 SHS-P ARDIS. (Foto: Dok/Istimewa)