Ntvnews.id, Jakarta - Mobil listrik buatan China makin sering jadi bahan perdebatan di kolom komentar otomotif Amerika Serikat (AS).
Banyak yang memuji teknologi dan harga kompetitifnya, bahkan menyebutnya lebih unggul dari model yang dijual di AS. Tapi ada satu masalah besar, yakni mobil-mobil itu belum benar-benar tersedia di pasar AS.
Dilansir dari Carscoops, Selasa (3/3/2026), sebagian besar kendaraan tersebut belum bersertifikasi federal, belum dijual melalui dealer resmi AS, tidak memiliki jaringan layanan domestik, dan harganya belum memperhitungkan tarif impor.
Artinya, yang dibicarakan publik sejauh ini masih sebatas alternatif teoretis, bukan pilihan nyata di showroom. Namun opini publik sudah terbentuk.
Generasi Z Paling Terbuka pada Mobil China
Kesadaran dan Keakraban Merek di China. (Foto: Istimewa/Carscoops)
Berdasarkan studi terbaru dari Cox Automotive, konsumen AS terbelah. Sekitar 38 persen pembeli mobil mengatakan mereka sangat atau mungkin mempertimbangkan merek China. Sebaliknya, 39 persen menyatakan sangat tidak mungkin.
Yang menarik, di kalangan Generasi Z, angka keterbukaan melonjak hingga 69 persen. Ini sinyal kuat dimana produsen mobil China benar-benar masuk ke pasar AS, strategi pemasaran mereka kemungkinan besar akan menyasar konsumen muda.
Perpecahan ini menunjukkan peluang sekaligus risiko. Daya tarik awal mungkin terkonsentrasi pada demografi tertentu dan belum tentu langsung menembus pasar yang lebih luas.
Kesadaran Merek Masih Rendah
Perbandingan antara Dealer dan Konsumen (Sangat Setuju atau Agak Setuju). (Foto: Istimewa/Carscoops)
Meski hampir separuh responden mengaku mengenal merek mobil China, tingkat pemahaman yang lebih dalam ternyata minim. Nama yang paling dikenal adalah BYD, dengan lebih dari sepertiga responden familiar terhadap merek tersebut.
Namun hanya 17 persen yang benar-benar memiliki pemahaman mendalam tentangnya. Artinya, ada jurang besar antara sekadar tahu nama dan benar-benar percaya pada produknya.
Di tingkat dealer, kesadarannya bahkan lebih rendah. Hanya sekitar seperempat dealer yang mengetahui BYD, menandakan diskusi soal mobil China di level ritel masih sangat awal.
Baca Juga: Ribuan Geely EX2 Resmi Diserahkan ke Konsumen Indonesia dan Thailand Secara Serempak
Pembeli Tertarik, Dealer Skeptis
Sekitar 40 persen konsumen menyatakan tertarik jika merek China masuk ke AS. Namun para dealer, yang memegang kendali distribusi, tidak seantusias itu.
Hanya 15 persen dealer yang menginginkan merek China hadir di AS, dan 92 persen menyatakan kekhawatiran terkait keandalan, keselamatan, serta keberlanjutan jangka panjang kendaraan buatan China.
Meski begitu, sekitar 70 persen dealer mengaku akan menyesuaikan strategi bisnis jika merek-merek tersebut benar-benar masuk pasar. Artinya, di balik skeptisisme, ada kesiapan untuk beradaptasi.
Menariknya, ketika konsumen diminta mempertimbangkan skenario kemitraan antara produsen China dan merek AS yang sudah mapan, minat pembelian melonjak hingga 76 persen. Kolaborasi lintas merek bisa menjadi kunci penerimaan pasar.
Konsumen Memberikan Peringkat Lebih Rendah pada Merek-Merek Cina Berdasarkan Kriteria Pembelian (Daya Tahan, Kualitas, Keamanan, dan Keandalan). (Foto: Istimewa/Carscoops)
Harga Jadi Daya Tarik Utama
Daya tarik mobil China bukan pada desain atau teknologi semata, melainkan harga. Hampir separuh responden menilai positif keterjangkauannya, dan 35 persen memuji performanya.
Selama ini, mobil-mobil China dikenal jauh lebih murah dibanding banyak merek global. Namun isu daya tahan, keselamatan, kualitas, dan keandalan masih menjadi pertimbangan utama konsumen AS.
Dalam perbandingan langsung, Tesla Model Y tetap unggul di segmen kendaraan listrik, sementara Chevrolet Equinox memimpin di kategori mesin pembakaran internal (ICE). Ini menunjukkan kuatnya posisi merek yang sudah lama dikenal dan dipercaya.
Namun ketika simulasi diskon besar diperkenalkan, banyak konsumen, terutama dari kelompok berpenghasilan rendah dan sensitif harga, menyatakan bersedia beralih ke merek China.
Memilih Antar Merek: AS vs China. (Foto: Istimewa/Carscoops)
Siapkah Pasar AS?
Merek-merek AS masih unggul berkat faktor kepercayaan dan keakraban. Harga memang bisa mempersempit jarak, terutama di segmen pembeli yang sensitif terhadap biaya, tetapi belum cukup untuk menghapus keraguan sepenuhnya.
Jadi, meski di kolom komentar banyak yang menyarankan membeli BYD Dolphin ketimbang model yang tersedia di dealer lokal, realitanya pasar AS belum sepenuhnya siap.
Generasi Z mungkin sudah membuka pintu. Tapi bagi banyak orang tua, dealer, dan pelaku industri, mobil buatan China masih perlu membuktikan diri sebelum benar-benar bisa menantang dominasi di jalanan Negeri Paman Sam tersebut.
Produsen mobil China, BYD, turut berpartisipasi di pameran otomotif GJAW 2025 pada 21-30 November, di ICE BSD City, Tangerang, Banten. (Foto: Adiantoro/NTV)