Ntvnews.id, Jakarta - Toyota selama ini dikenal memiliki jajaran produk yang sangat beragam. Namun, banyaknya model dan varian ternyata mulai menjadi perhatian serius manajemen perusahaan.
CEO baru Toyota, Kenta Kon, mengakui jumlah model dan spesifikasi yang terus bertambah justru berpotensi membebani biaya produksi.
Saat ini, Toyota menawarkan berbagai model dengan pilihan trim yang sangat banyak. Sebagai contoh, Toyota 4Runner tersedia dalam 12 varian, sementara Grand Highlander memiliki hingga 10 pilihan trim.
Kondisi ini dinilai membuat proses pengembangan kendaraan menjadi semakin kompleks dan mahal.
Menurut laporan Automotive News yang dikutip Carscoops pada Jumat (19/6/2026), Kenta Kon menegaskan Toyota perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap lini produknya.
Dia menyebut banyaknya spesifikasi dan varian yang dikembangkan selama ini telah meningkatkan biaya operasional perusahaan.
"Jika Anda pergi ke divisi pengembangan, Anda akan melihat semakin banyak spesifikasi dan varian berbeda yang dibuat, yang pada akhirnya meningkatkan biaya," ujar Kenta Kon.
Langkah evaluasi ini menjadi bagian dari strategi Toyota untuk menciptakan perusahaan yang lebih efisien, ramping, dan menguntungkan.
Seluruh produk kini disebut sedang ditinjau, termasuk model-model yang kontribusinya terhadap keuntungan perusahaan dianggap kurang optimal.
Salah satu indikasi awal dari kebijakan tersebut adalah dibatalkannya rencana produksi sedan listrik Lexus LF-ZC.
Baca Juga: Bos Toyota Kritik Transisi Cepat ke Mobil Listrik: Hybrid Masih Relevan
Mobil konsep yang sebelumnya diproyeksikan meluncur pada 2027 itu dikabarkan dihentikan karena berbagai pertimbangan, termasuk rendahnya proyeksi permintaan pasar.
Sejumlah model Toyota juga dinilai berpotensi masuk dalam daftar evaluasi. Toyota Mirai, misalnya, masih kesulitan menarik minat konsumen.
Di Amerika Serikat (AS), penjualan Mirai sepanjang tahun lalu hanya mencapai 210 unit. Sebagai perbandingan, Toyota GR86 mampu terjual 576 unit hanya dalam satu bulan, yakni Desember.
Selain Mirai, Toyota Crown juga menghadapi tantangan serupa. Sedan yang menggabungkan karakteristik crossover tersebut mencatat penurunan penjualan lebih dari 37 persen pada tahun lalu menjadi 12.309 unit.
Toyota bahkan dinilai dapat mengarahkan calon pembeli Crown ke model lain seperti Camry atau Lexus ES.
Di sisi lain, Crown Signia menunjukkan performa yang lebih baik. Penjualannya meningkat lebih dari dua kali lipat hingga mencapai 20.550 unit.
Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah pencapaian Venza yang berhasil membukukan penjualan 32.086 unit pada 2024.
Toyota juga menghadapi pertanyaan terkait banyaknya varian pada pikap Tundra. Model ini memiliki 10 trim berbeda dengan empat konfigurasi kabin dan bak.
Beberapa varian premium seperti Limited, Platinum, Capstone, dan 1794 Edition bahkan memiliki perbedaan harga yang relatif tipis.
Meski model-model premium tersebut memberikan margin keuntungan yang besar, keberadaan terlalu banyak pilihan dinilai dapat menambah kompleksitas produksi dan distribusi.
Hingga saat ini Toyota belum mengumumkan model mana yang akan dihentikan. Namun, pernyataan CEO baru perusahaan menjadi sinyal kuat diman sejumlah kendaraan dengan penjualan rendah atau tumpang tindih kemungkinan akan masuk dalam daftar rasionalisasi produk di masa mendatang.
Ilustrasi. Logo Toyota. (Foto: Reuters)