Parlemen Eropa Desak FIFA Selidiki Pencabutan Sanksi Pemain AS Folarin Balogun

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Jul 2026, 10:32
thumbnail-author
Zaki Islami
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Donald Trump dan Gianni Infantino Donald Trump dan Gianni Infantino (Instagram @gianni_infantino)

Ntvnews.id, Parlemen Eropa mendesak FIFA melakukan penyelidikan atas keputusan kontroversial yang membatalkan sanksi larangan bermain bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Desakan tersebut muncul setelah adanya dugaan bahwa keputusan FIFA dipengaruhi oleh tekanan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Anggota Parlemen Eropa (MEP) meluncurkan surat yang ditujukan kepada 27 asosiasi sepak bola negara anggota Uni Eropa. Dalam surat tersebut, mereka meminta seluruh asosiasi mendesak FIFA menyelidiki proses pengambilan keputusan di balik pencabutan hukuman terhadap Balogun.

Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan keterangan kepada wartawan pada sehari menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Rabu (10/6/2026). Gianni mengapresiasi kesiapan pemerintah Meksiko dalam mempersiapkan Pi <b>(Antara)</b> Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan keterangan kepada wartawan pada sehari menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Rabu (10/6/2026). Gianni mengapresiasi kesiapan pemerintah Meksiko dalam mempersiapkan Pi (Antara)

"Kami merasa sudah waktunya bagi asosiasi sepak bola Eropa, yang semuanya merupakan anggota FIFA, untuk turun tangan dan meminta FIFA menyelidiki proses pengambilan keputusan dalam kasus Balogun," demikian isi surat yang diperoleh Euronews, Rabu 8 Juli 2026.

Salah satu penggagas surat itu, Barry Andrews, menilai keputusan FIFA telah mencederai prinsip keadilan dan independensi organisasi. Menurutnya, FIFA kembali tunduk pada tekanan dari pemerintahan Presiden Donald Trump.

Andrews bahkan menyebut keputusan tersebut sebagai "sebuah aib dan bentuk penyimpangan terhadap keadilan."

Baca Juga: FBI Turun Tangan Selidiki Federasi Sepakbola Argentina Dugaan Kasus Pencucian Uang

Kritik serupa juga datang dari Komisioner Uni Eropa bidang olahraga, Glenn Micallef, yang menyebut pencabutan sanksi sebagai keputusan yang keliru.

Sementara itu, mantan Direktur Komunikasi dan Urusan Publik UEFA, William Gaillard, menilai langkah FIFA bertentangan dengan aturan dan statuta organisasi itu sendiri.

Surat yang diinisiasi Barry Andrews bersama Lara Wolters dan Niels Fuglsang masih beredar di kalangan anggota Parlemen Eropa untuk mengumpulkan dukungan.

Para pengusul meminta asosiasi sepak bola Eropa memastikan pejabat senior FIFA dimintai pertanggungjawaban apabila ditemukan bukti adanya pelanggaran terhadap prinsip netralitas politik.

Kontroversi bermula saat Balogun menerima kartu merah dalam pertandingan Amerika Serikat melawan Bosnia dan Herzegovina pada pekan lalu. Berdasarkan regulasi FIFA, kartu merah tersebut seharusnya membuat sang pemain menjalani hukuman larangan tampil satu pertandingan sehingga absen pada babak 16 besar melawan Belgia.

Namun, FIFA kemudian menangguhkan pelaksanaan sanksi melalui mekanisme hukum yang disebut belum pernah diterapkan sebelumnya dalam sejarah Piala Dunia sejak aturan kartu merah diberlakukan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui sempat menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino terkait kartu merah yang diterima Balogun.

Meski membantah meminta perlakuan khusus, Trump kemudian menyampaikan ucapan terima kasih kepada Infantino setelah sanksi tersebut dibatalkan. Di sisi lain, Infantino menegaskan badan disiplin FIFA bekerja secara independen.

Keputusan itu memicu gelombang kritik di Eropa. UEFA menyebut langkah FIFA sebagai keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sulit dipahami, dan tidak dapat dibenarkan.

Federasi Sepakbola Belgia juga telah mengajukan protes resmi terkait kelayakan Balogun tampil dalam pertandingan babak 16 besar yang berakhir dengan kemenangan Belgia 4-1 atas Amerika Serikat.

x|close