Ntvnews.id, Jakarta - Sebuah video yang memperlihatkan balita menangis histeris saat menjalani terapi “totok sirih” mendadak viral dan memicu perdebatan luas di media sosial. Rekaman tersebut langsung menyita perhatian publik karena memperlihatkan proses terapi yang dinilai tidak biasa untuk anak kecil.
Dalam video yang beredar, terlihat seorang terapis asal Palembang menggunakan alat berupa kayu pijat yang dibalut daun sirih. Alat itu digunakan untuk menekan sejumlah titik di tubuh balita dengan tekanan yang tampak cukup kuat. Selama proses berlangsung, anak tersebut terus menangis tanpa henti, memicu kekhawatiran banyak pihak.
Pemilik praktik terapi tersebut mengklaim bahwa metode “totok sirih” memiliki manfaat bagi balita, seperti membantu tubuh menjadi lebih rileks, meningkatkan kualitas tidur, serta mengurangi kerewelan di malam hari. Ia juga menyebut daun sirih sebagai bahan alami dengan kandungan antiseptik yang dipercaya mampu mendeteksi sekaligus “menyedot” penyakit melalui titik saraf tertentu.
Baca Juga: Truk Tabrak Pemotor Usai Tersenggol Saat Menyalip di Rumpin Bogor, 1 Orang Tewas
Namun, klaim tersebut langsung mendapat sorotan dari kalangan medis. Para ahli menegaskan bahwa metode “totok sirih” belum memiliki dasar ilmiah yang kuat, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai pengobatan utama, terutama bagi anak-anak. Selain itu, penggunaan tekanan dari tenaga orang dewasa terhadap tubuh balita dinilai berisiko jika tidak dilakukan dengan standar yang tepat.
Tubuh anak kecil yang masih dalam tahap perkembangan membutuhkan perlakuan yang jauh lebih lembut dan berbasis medis. Tanpa penanganan yang tepat, tindakan seperti ini dikhawatirkan justru dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan.
Reaksi warganet pun bermunculan setelah video tersebut viral. Banyak yang menilai metode terapi itu terlalu keras untuk ukuran balita dan tidak sesuai dengan kondisi fisik anak yang masih sensitif.
Baca Juga: Film The Devil Wears Prada 2 Terancam Diboikot di China
"Perlu banget hal ini diinget untuk orang tua agar anaknya kalau sakit itu bereobat, bukan terapis seperti ini," tulis komentar warganet dalam unggahan tersebut.
"Terapisnya minim ilmu bahkan tidak punya sertifikasi resmi dari dinkes sebagai terapist bayi..dan juga ibu nya minim akal sehat dan literasi.. Yang jadi korban si anak," timpal warganet lainnya.
Viralnya kasus ini kembali menjadi pengingat bagi masyarakat, khususnya orang tua, untuk lebih berhati-hati dalam memilih metode pengobatan bagi anak. Tidak semua praktik tradisional aman diterapkan, apalagi jika tidak didukung oleh bukti ilmiah dan pengawasan yang memadai.
Balita Totok Sirih (Instagram)