MBG Gerakkan Ekonomi Mikro, Peternak Telur Rumahan Rasakan Manfaat Nyata

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Apr 2026, 22:45
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Dari dapur sederhana di desa, dampaknya terasa luas. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan cuma bantu penuhi gizi anak-anak, tapi juga menggerakkan ekonomi kecil seperti usaha ayam petelur milik Eni di Klaten. Dari dapur sederhana di desa, dampaknya terasa luas. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan cuma bantu penuhi gizi anak-anak, tapi juga menggerakkan ekonomi kecil seperti usaha ayam petelur milik Eni di Klaten. (Bakom)

Ntvnews.id,  Klaten - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya memberikan manfaat bagi pemenuhan gizi anak, tetapi juga mendorong peningkatan perekonomian mikro di tingkat rumah tangga. Hal ini dirasakan langsung oleh salah satu peternak ayam petelur rumahan, Eni Melani (31), warga Desa Borangan, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah.

Eni telah menjalankan usaha ayam petelur selama kurang lebih tiga tahun. Awalnya, hasil produksinya hanya dipasarkan secara terbatas kepada tetangga dan warung sekitar. Namun, sejak terlibat sebagai pemasok dalam program MBG, usahanya kini memiliki pasar yang lebih pasti.

"Telur-telur ini saya jual pertama di tetangga-tetangga. Terus saya supply ke warung-warung. Terus sekarang ada program MBG, saya tawarkan di dapur untuk dijadikan di program MBG. Telurnya saya supply ke sana," ujar Eni saat ditemui di rumahnya di Dusun Ngremang, Desa Borangan, Manisrenggo, Klaten, Rabu, 22 April 2026.

Baca Juga:  MBG Ramadan Roti Susu Telur dan Kurma: Anak-Anak Antusias Menanti Setiap Hari

Dalam sehari, produksi telur yang dihasilkan mencapai sekitar 8–9 kilogram, dengan harga jual mengikuti pasar, berkisar Rp26.000–27.000 per kilogram.

Untuk memenuhi kebutuhan MBG, telur-telur tersebut dikumpulkan terlebih dahulu hingga mencapai 25–30 kilogram sebelum dikirim ke dapur MBG.

Dulu jualannya terbatas, sekarang punya pasar yang lebih pasti. Produksi jalan, pemasukan berputar, dan harapan ikut tumbuh. <b>(Bakom)</b> Dulu jualannya terbatas, sekarang punya pasar yang lebih pasti. Produksi jalan, pemasukan berputar, dan harapan ikut tumbuh. (Bakom)

“Kan nggak setiap hari dikirim ke MBG. Kita kumpulin, nanti kalau ke MBG udah 25–30 kilo, saya baru anter,” jelasnya.

Menurut Eni, kehadiran MBG memberikan kepastian pasar sekaligus mempercepat perputaran usaha, terutama untuk kebutuhan pembelian pakan. “Kalau ada MBG itu saya nandu langsung ke MBG, uangnya muter buat beli pakan, begitu,” ungkapnya.

Sebelum adanya program MBG, Eni harus aktif menawarkan dagangannya dari rumah ke rumah maupun ke warung.

Kondisi tersebut membuat penjualan tidak selalu stabil. Kini, dengan adanya MBG, proses distribusi menjadi lebih efisien dan terarah.

Namun demikian, ia juga mengungkapkan kekhawatirannya jika program tersebut tidak berjalan lama.

"Kalau di setop ya saya bingung lagi. Harus kembali ke nol lagi. Saya harus jual ke tetangga. Saya nawarin lagi. Saya harus ke mana-mana, ke warung," tuturnya.

Lebih dari sekedar dampak ekonomi, Eni menilai program MBG juga memberikan manfaat besar bagi penyediaan gizi anak-anak.

Baca Juga: Dapat Rapelan MBG untuk Seminggu, Ibu Ini Pamerkan Roti, Telur Bebek, hingga Ayam Ungkep

"Pak Prabowo terima kasih sudah mengasih program MBG ke anak-anak agar anak-anak bisa sehat, makan. Kalau pagi-pagi kan langsung makan bersama. Kalau di rumah kadang makan, ada yang tidak, kan kasihan," ucapnya.

Ia berharap program MBG dapat terus berlanjut agar manfaatnya dirasakan secara luas, baik oleh anak-anak maupun pelaku usaha kecil seperti dirinya. “Jadi kalau bisa (MBG) diadakan terus, enggak usah disetop,” pungkas Eni.

Ke depan, Eni berencana meningkatkan kapasitas usahanya seiring meningkatnya kebutuhan dari program MBG.

Saat ini, ia memelihara 200 ekor ayam petelur dengan produksi 8–9 kilogram telur per hari (sekitar 16–17 butir per kilogram) dan baru mampu menyuplai satu dapur MBG di sekitar tempat tinggalnya.

x|close