Dari Beras ke Cabai, Indonesia Bidik Swasembada 8 Pangan Strategis di 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Apr 2026, 23:30
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Setelah berhasil mencapai swasembada beras pada 2025, Indonesia kini membidik kemandirian pangan untuk delapan komoditas strategis pada Juni 2026. Setelah berhasil mencapai swasembada beras pada 2025, Indonesia kini membidik kemandirian pangan untuk delapan komoditas strategis pada Juni 2026. (Bakom)

Ntvnews.id

, Jakarta - Misi swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto di awal masa jabatannya perlahan mulai terwujud.

Setelah berhasil mencapai swasembada beras pada akhir 2025, pemerintah kini memproyeksikan capaian yang lebih luas, yaitu delapan komoditas pangan strategis akan berada dalam kondisi swasembada pada Juni 2026.

Proyeksi tersebut didasarkan pada neraca pangan yang dirilis Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Data hingga pertengahan 2026 menunjukkan ketersediaan pangan nasional secara umum melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat, sehingga menghasilkan surplus di sejumlah komoditas utama.

Untuk komoditas beras, ketersediaan diperkirakan mencapai 31,3 juta ton, jauh di atas kebutuhan sebesar 15,4 juta ton, artinya terdapat surplus sekitar 15,8 juta ton.

Kondisi ini memperkuat posisi beras sebagai komoditas yang telah lebih dulu mencapai swasembada sejak tahun lalu.

Baca Juga: BULOG Perkuat Swasembada Pangan Lewat Panen Raya Jagung di Blora

Komoditas lain juga menunjukkan tren serupa. Jagung diproyeksikan memiliki ketersediaan 13,2 juta ton dengan kebutuhan 8,4 juta ton, menghasilkan surplus 4,7 juta ton.

Gula konsumsi mencatat ketersediaan 2,2 juta ton, melampaui kebutuhan 1,4 juta ton atau surplus sekitar 797 ribu ton.

Sementara itu, pada komoditas hortikultura, cabai besar diperkirakan surplus 87 ribu ton dari total ketersediaan 551 ribu ton. Cabai rawit juga mengalami kelebihan pasokan sebesar 61 ribu ton.

Bawang merah turut mencatat surplus sekitar 53 ribu ton, dengan sebagian produksi bahkan telah diarahkan untuk ekspor.

Di sektor protein hewani, daging ayam dan telur ayam juga menunjukkan kinerja positif. Produksi daging ayam mencapai 2,9 juta ton, melebihi kebutuhan 2 juta ton atau surplus sekitar 950 ribu ton.

Telur ayam mencatat surplus 517 ribu ton dari ketersediaan 3,7 juta ton. Sebagian kelebihan produksi ini telah dimanfaatkan untuk pasar ekspor.

Deputi 1 Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa capaian ini merupakan bukti nyata dari upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Berdasarkan data Bapanas, surplus produksi yang signifikan ini menjadi bukti nyata komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan menstabilkan harga di tingkat masyarakat. <b>(Bakom)</b> Berdasarkan data Bapanas, surplus produksi yang signifikan ini menjadi bukti nyata komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan menstabilkan harga di tingkat masyarakat. (Bakom)

Baca Juga: Infografik: Tanam Serentak di Lahan Cetak Sawah, Kementan Kejar Swasembada Beras

“Artinya upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan rakyat seperti yang disampaikan Presiden, ini sudah kelihatan nyata datanya,” ujarnya, Senin 20 April 2026.

Meski demikian, pemerintah belum berhenti.

Sejumlah komoditas lain yang kebutuhannya belum sepenuhnya dipasok dalam negeri, seperti bawang putih, kedelai, serta daging sapi dan kerbau, terus didorong menuju swasembada.

Dengan tren surplus yang semakin meluas, Indonesia dinilai semakin kuat untuk mencapai kemandirian pangan secara menyeluruh, sekaligus memperkuat stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri.

x|close