Suami Depresi, Ibu Buruh Tani Bangga Anaknya Kini Bisa Sekolah Gratis di Sekolah Rakyat dari Pemerintah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Apr 2026, 14:27
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Di balik keterbatasan hidup sebagai buruh tani, Ibu Punijah menyimpan rasa bangga yang luar biasa melihat putranya, Ahmad Lutfi, kembali bersekolah setelah sempat putus di tengah jalan. Di balik keterbatasan hidup sebagai buruh tani, Ibu Punijah menyimpan rasa bangga yang luar biasa melihat putranya, Ahmad Lutfi, kembali bersekolah setelah sempat putus di tengah jalan. (Bakom)

Ntvnews.id, Sragen -  Rasa syukur dan bangga tak bisa disembunyikan dari wajah Punijah (45), seorang buruh tani serabutan yang akhirnya melihat anaknya kembali bersekolah setelah sempat putus di tengah jalan.

Di tengah keterbatasan hidup dan beban sebagai tulang punggung keluarga, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi titik balik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Punijah hidup dalam kondisi serba kekurangan.

Rumahnya berdinding gedek dan berlantai tanah.

Penghasilannya tak menentu, hanya sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per hari, itu pun jika ada pekerjaan dari tetangga.

Baca Juga: Anak Orangtua Difabel Dapat Pendidikan Gratis di Sekolah Rakyat: Dapat Makanan dan Pakaian

Di sisi lain, suaminya mengalami depresi dan kerap pergi tanpa kepastian, membuat seluruh tanggung jawab keluarga berada di pundaknya seorang diri.

Dalam kondisi itu, Punijah tak mampu membiayai pendidikan anak sulungnya, Ahmad Lutfi.

Sekolah pun terhenti. Lutfi terpaksa bekerja membantu ibunya.

Lutfi sempat bekerja di pabrik kerupuk di kawasan Tanon, Sragen, demi menambah penghasilan keluarga.

Namun di balik itu semua, ada keinginan kuat dari sang anak untuk kembali belajar, keinginan yang justru membuat hati Punijah semakin teriris.

“Dulu anak saya sudah minta-minta, ‘Mak, aku pengen sekolah lagi’, tapi aku gak mampu, Pak,” katanya sambil menangis.

“Karena saya jadi tulang punggung sendirian, saya gak mampu untuk biayai anak saya sekolah.”

Harapan itu kini terjawab. Ahmad Lutfi diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 78 Sragen, tempat di mana seluruh kebutuhan pendidikan dipenuhi tanpa biaya.

Mulai dari seragam, sepatu, hingga makan sehari-hari.

Bagi Punijah, ini bukan sekadar bantuan, tetapi kesempatan kedua bagi anaknya untuk bangkit.

Tak hanya itu, Punijah juga menerima bantuan dua ekor kambing dari Kementerian Sosial untuk membantu menopang ekonomi keluarga.

Meski belum tahu akan dimanfaatkan seperti apa ke depannya, ia bertekad merawat bantuan tersebut dengan sebaik mungkin sebagai harapan tambahan di tengah keterbatasan.

“Alhamdulillah, saya benar-benar bersyukur. Saya tidak mampu, tapi anak saya bisa sekolah lagi, dibimbing dengan baik,” ujarnya lirih.

Rasa bangga itu begitu kuat.

Punijah mengaku tak henti-hentinya merasa haru setiap kali mengingat bahwa anaknya kini kembali duduk di bangku sekolah.

“Saya bangga banget, saestu bangga. Ada Sekolah Rakyat, saya bisa sekolahkan anak saya lagi,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Baginya, kebahagiaan ini sederhana namun sangat berarti: melihat anaknya kembali memiliki harapan, kembali tersenyum, dan kembali mengejar cita-citanya.

Baca Juga: Anak Orangtua Difabel Dapat Pendidikan Gratis di Sekolah Rakyat: Dapat Makanan dan Pakaian

“Sekarang anak saya bisa bangkit lagi, bisa senang lagi. Saya benar-benar bersyukur,” katanya.

Di tengah segala keterbatasan hidup, penghasilan yang pas-pasan, kondisi keluarga yang berat, dan masa lalu anaknya yang sempat putus sekolah, Punijah kini menggenggam harapan baru.

Ia hanya ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan meraih masa depan yang lebih baik.

“Pengen jadi orang sukses, dadi anak sing sae (jadi anak yang baik),” tuturnya.

Bagi Punijah, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar.

Lebih dari itu, ia adalah jawaban atas doa panjang seorang ibu yang selama ini hanya bisa pasrah karena keterbatasan.

Kini, rasa bangga dan syukur itu menjadi kekuatan baru untuk terus melangkah.

x|close