Ntvnews.id, Jakarta - Di pesisir Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, geliat ekonomi terasa semakin dinamis sejak hadirnya Terminal Kijing. Di balik aktivitas bongkar muat yang berlangsung tanpa henti, terminal ini menjelma menjadi simpul penting dalam jaringan logistik nasional.
Dikelola oleh PTP Nonpetikemas sejak 1 Agustus 2022, Terminal Kijing bukan sekadar pelabuhan, melainkan urat nadi yang menghubungkan pusat produksi dengan pasar global.
Sebagai terminal multipurpose yang beroperasi selama 24 jam, Terminal Kijing memainkan peran strategis dalam memastikan kelancaran distribusi barang, mulai dari komoditas unggulan hingga kebutuhan industri. Letaknya yang berbatasan langsung dengan jalur perdagangan internasional Selat Malaka memberikan keunggulan tersendiri, menjadikannya pintu gerbang ekspor-impor bagi wilayah Kalimantan Barat.
Kalimantan Barat dikenal sebagai salah satu sentra produksi minyak kelapa sawit nasional. Dengan puluhan perkebunan dan ratusan industri pengolahan CPO, kebutuhan akan infrastruktur logistik yang efisien menjadi sangat krusial. Di sinilah Terminal Kijing hadir sebagai solusi. Fasilitas modern seperti harbour mobile crane, excavator, hingga mobile conveyor memungkinkan proses bongkar muat berjalan cepat dan efisien.
Tak hanya CPO dan turunannya, Terminal Kijing juga menangani berbagai komoditas lain seperti batubara, pupuk, bauksit, hingga kargo berat. Keberagaman jenis kargo ini mencerminkan fleksibilitas layanan terminal multipurpose yang menjadi kekuatan utama PTP Nonpetikemas.
Baca Juga: Pelindo Multi Terminal Group Catat Kinerja Positif Semester I/2025, Trafik Barang Tumbuh Signifikan
Kinerja Terminal Kijing pun menunjukkan tren positif. Lonjakan throughput dari 1,95 juta ton pada 2023 menjadi 2,75 juta ton di 2024, hingga proyeksi menembus 4 juta ton pada 2025, menjadi bukti meningkatnya kepercayaan pengguna jasa. Hingga November 2025 saja, total throughput telah mencapai 3,59 juta ton, didominasi oleh curah kering.
Produktivitas operasional juga meningkat signifikan, dengan capaian rata-rata 3.620 ton per ship per day. Angka ini menunjukkan peningkatan efisiensi yang tidak hanya berdampak pada percepatan arus barang, tetapi juga pada penurunan biaya logistik secara keseluruhan.
Peran Terminal Kijing semakin vital ketika dikaitkan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN), khususnya pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah. Terminal ini menjadi pusat distribusi material penting seperti bauksit dan aluminium hidroksida, yang merupakan bagian dari program hilirisasi industri nasional.
Dengan demikian, Terminal Kijing tidak hanya berfungsi sebagai pelabuhan, tetapi juga sebagai katalisator pembangunan industri. Kehadirannya mempercepat proses hilirisasi, meningkatkan nilai tambah komoditas, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Terminal Kijing Kalimatan Barat (Website ptp.co.id)
Namun, kontribusi PTP Nonpetikemas tidak berhenti pada aspek ekonomi semata. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan turut berperan dalam pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan masyarakat.
Program PTP EduPort, misalnya, melibatkan mahasiswa dalam kegiatan operasional sekaligus mendorong lahirnya inovasi. Sementara itu, program pelatihan dan sertifikasi pekerja harian memberikan kesempatan bagi tenaga kerja lokal untuk meningkatkan kompetensi sesuai standar nasional.
Langkah ini menciptakan efek berantai yang positif. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam ekosistem logistik yang berkembang. Dengan SDM yang lebih kompeten, kualitas layanan pelabuhan pun semakin meningkat.
Baca Juga: Komitmen Transformasi Berkelanjutan, Pelindo Multi Terminal Ajak Pengguna Jasa Bertumbuh Bersama
Ke depan, Terminal Kijing diproyeksikan menjadi salah satu motor penggerak utama ekonomi wilayah barat Indonesia. Dengan dukungan infrastruktur yang terus diperkuat dan layanan yang semakin terintegrasi, pelabuhan ini diharapkan mampu menjawab tantangan logistik nasional yang semakin kompleks.
Di tengah dinamika global dan kebutuhan efisiensi rantai pasok, keberadaan terminal seperti Kijing menjadi semakin relevan. Ia bukan hanya penghubung antarwilayah, tetapi juga jembatan menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Terminal Kijing Kalimatan Barat (Website ptp.co.id)