Trump Akui Bakal Ada Potensi Korban Warga AS Usai Serangan Besar ke Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Mar 2026, 06:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip - Presiden AS Donald Trump berbicara pada Pertemhuan Tahunan World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss, 22 Januari 2026. (ANTARA/Xinhua/Lian Yi) Arsip - Presiden AS Donald Trump berbicara pada Pertemhuan Tahunan World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss, 22 Januari 2026. (ANTARA/Xinhua/Lian Yi) (Antara)

Ntvnews.id, Donald Trump - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui kemungkinan adanya korban dari pihak AS setelah serangan besar-besaran dilancarkan ke Iran. Trump bahkan menuding rezim Iran berupaya melakukan pembunuhan melalui serangan balasan.

Dilansir dari Reuters, Minggu, 1 Maret 2026, Trump menyampaikan bahwa operasi militer tersebut ditujukan untuk melumpuhkan persenjataan rudal Iran sekaligus menghancurkan kekuatan angkatan lautnya. Langkah itu diambil menyusul peringatan berulang dari AS dan Israel yang menegaskan akan kembali menyerang Iran jika Teheran tetap melanjutkan program rudal nuklir dan balistiknya.

"Pemerintahan saya telah mengambil setiap langkah yang memungkinkan untuk meminimalkan risiko terhadap personel AS di wilayah tersebut. Meski begitu, dan saya tidak membuat pernyataan ini dengan enteng, rezim Iran berusaha untuk membunuh," kata Trump dalam sebuah video yang dibagikan di Truth Social.

Trump menegaskan dirinya tidak mempermasalahkan jika warga AS terdampak dalam rangkaian serangan tersebut. Ia mengklaim operasi militer itu dilakukan bukan untuk kepentingan jangka pendek, melainkan demi masa depan.

Baca Juga: Serang Iran, Trump: untuk Lindungi Rakyat Amerika

"Nyawa para pahlawan Amerika yang berani mungkin akan melayang dan kita mungkin akan memiliki korban jiwa, hal yang sering terjadi dalam perang, tetapi kita melakukan ini, bukan untuk saat ini. Kita melakukan ini untuk masa depan, dan ini adalah misi yang mulia," tuturnya.

Diketahui, AS bersama Israel melancarkan serangan gabungan ke wilayah Iran pada Sabtu pagi waktu setempat. Serangan tersebut diklaim bertujuan meniadakan ancaman yang disebut berasal dari rezim Iran.

Serangan Iran Israel <b>(Istimewa)</b> Serangan Iran Israel (Istimewa)

Pernyataan video secara terpisah juga disampaikan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Trump, yang sama-sama mengisyaratkan dukungan terhadap upaya perubahan pemerintahan di Teheran.

Iran mengecam serangan itu sebagai pelanggaran kedaulatan negara. Militer Iran pun berjanji akan membalas dan telah melancarkan serangan balasan dengan menargetkan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Akibat eskalasi tersebut, rentetan ledakan dilaporkan mengguncang sejumlah negara Teluk Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS pada Sabtu, 28 Februari 2026 waktu setempat. Negara-negara seperti Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, hingga Kuwait melaporkan adanya ledakan setelah serangan AS dan Israel ke Iran.

TERKINI

Load More
x|close