Dirut PLN: Kami Tak Pernah Mikirkan Sebelumnya Gardu Terendam Lumpur, Tiang Listrik Ambruk di Banjir Sumatera

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Jan 2026, 11:32
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo (YouTube TVR Parlemen)

Ntvnews.id, Jakarta - PT PLN (Persero) menilai bencana banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai titik balik dalam penanganan dan penguatan sistem ketenagalistrikan nasional.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan perusahaan belum pernah menghadapi bencana dengan skala sebesar itu, sehingga diperlukan perubahan mendasar untuk memperkuat kesiapan menghadapi bencana di masa mendatang.

Dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta pada Rabu, 21 Januari 2026, Darmawan memaparkan sejumlah langkah jangka pendek yang telah dilakukan PLN dalam proses pemulihan kelistrikan pascabencana di wilayah Sumatera, salah satunya melalui pembangunan tower emergency.

“Tadinya satu jalur, kami bangun menjadi tower emergency dua jalur. Ke depan perlu tower permanen sehingga ada tiga jalur,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa peristiwa banjir tersebut mengubah standar keamanan sistem kelistrikan. Jika sebelumnya gardu induk dinilai relatif aman dari risiko banjir, dalam kejadian kali ini untuk pertama kalinya gardu induk PLN terendam lumpur.

Baca Juga: Listrik di 6.432 Desa Aceh Kembali Terang Pascabencana

“Misalnya area 10x10 meter dengan lumpur setinggi 1 meter berarti 150 ton lumpur. Evakuasi arena 10x10 membutuhkan peralatan khusus, yang saat itu kami akui tidak punya. Kami terpaksa mengerahkan pasukan PLN, dibantu rakyat, TNI, dan Polri,” katanya.

Darmawan menyampaikan PLN akan mulai menyusun contingency master plan baru yang lebih komprehensif dalam menghadapi potensi bencana ke depan. Ia mencontohkan kondisi jaringan kelistrikan di Aceh dan Sumatera yang sebelumnya dianggap aman, namun justru menjadi “doomsday scenario” ketika transmisi backbone Sumatera terputus dari sistem Aceh.

“Kami tidak pernah memikirkan ribuan gardu distribusi terendam lumpur. Kami tidak pernah memikirkan ribuan tiang listrik tenaga tegangan rendah kami akan ambruk. Kami tidak pernah terpikirkan bagaimana setelah listrik menyala pun kami tidak bisa menyalakan rumah pelanggan kami,” ujar dia.

Menurut Darmawan, PLN akan melakukan evaluasi menyeluruh dengan menggeser kriteria yang selama ini digunakan, guna memfinalisasi contingency master plan penanganan bencana. Rencana tersebut mencakup penguatan keandalan sistem kelistrikan dari standar lama yang dianggap aman menuju standar baru yang lebih sesuai dengan kondisi terkini.

Baca Juga: PLN Hadirkan Layanan Tambah Listrik Sementara Lewat Aplikasi PLN Mobile

Selain itu, PLN juga menyiapkan rancangan proses bisnis baru, termasuk mekanisme pengambilan keputusan terkait tingkat kerusakan akibat bencana, serta penyusunan peta jalan pemulihan yang lebih mendalam dan komprehensif, namun tetap ditargetkan berjalan cepat agar penanganan di lapangan lebih presisi dan efektif.

Darmawan menambahkan perusahaan akan membangun dashboard digital untuk memantau titik-titik gangguan kelistrikan. Ia mencontohkan, saat tsunami Aceh sebelumnya hanya terdapat delapan titik gangguan yang dapat dicatat secara manual, sementara dalam bencana kali ini jumlah titik gangguan mencapai hampir seribu di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

"Kami harus membangun sistem digital penanganan bencana yang bisa melakukan monitoring secara kontinu, dan juga mendeteksi progres di lapangan, apa yang menjadi tantangan ... sehingga proses pemulihannya bisa berjalan dengan cepat," tuturnya.

Ia menegaskan pengalaman penanganan bencana di Sumatera akan menjadi rujukan bagi PLN dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, Bali, Jawa, dan Madura.

(Sumber: Antara) 

x|close