Ntvnews.id, Bekasi - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai Indonesia perlu memperkuat posisinya sebagai kekuatan menengah yang berpengaruh (influential middle power) dalam dinamika geopolitik internasional. Menurutnya, suara Indonesia semakin didengar dan diperhitungkan oleh dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan AHY saat membuka Konvensi Nasional (Vennas) XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) 2026 di President University, Kota Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, Selasa, 13 Oktober 2026.
Konvensi tersebut diikuti sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan media Indonesia. Kegiatan ini juga melibatkan Universitas Bahasa dan Budaya Beijing (Beijing Language and Culture University/BLCU) sebagai penyelenggara.
Mengangkat tema "Melampaui Fragmentasi: Konstelasi Kuasa, Inovasi, dan Tata Kelola Global Masa Depan", Vennas XVII AIHII berlangsung pada 12-15 Oktober 2026. Rangkaian kegiatannya mencakup forum akademik, pidato pembicara utama, serta forum keorganisasian.
Baca Juga: Perkuat Hubungan Bilateral, AHY Dorong Kemitraan Strategis Indonesia–Swiss
Dalam sambutannya, Ketua Umum AIHII Agus Haryanto mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki 77 program studi hubungan internasional dengan jumlah mahasiswa aktif berkisar 37.000 hingga 40.000 orang. Organisasi tersebut juga menaungi 729 dosen hubungan internasional.
Agus menjelaskan, keahlian para dosen mencakup berbagai bidang, mulai dari pertahanan dan keamanan, politik, hingga iklim. Informasi mengenai keahlian tersebut dapat diakses melalui barcode pada kartu tanda anggota untuk memudahkan pencarian.
Menanggapi tema konvensi, AHY menilai dunia saat ini menghadapi paradoks global. Kemajuan teknologi dan keterhubungan antarnegara berjalan beriringan dengan meningkatnya fragmentasi di berbagai bidang.
"Kalau kita mengikuti pemberitaan sehari-hari dan kita juga merasakan langsung di kehidupan kita, ini terasa betul bahwa dunia semakin borderless, semakin terhubung satu sama lain, tapi ironisnya di sana-sini kita merasakan terjadinya fragmentasi," tutur AHY.
Baca Juga: AHY Dorong Penguatan Kerja Sama Air, Energi, dan Konektivitas Indonesia–Swiss
Ia juga menyoroti pesatnya perkembangan teknologi dan semakin besarnya kebutuhan akan kerja sama internasional. Namun, di saat yang sama, kepercayaan terhadap institusi global dinilai melemah dan upaya mencapai kesepakatan antarnegara semakin sulit, padahal kepemimpinan global sangat dibutuhkan.
Menurut AHY, situasi tersebut turut mendorong negara-negara untuk menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama (national interest comes first).
"Memang inilah sejatinya negara itu dibangun, pertama dan utama adalah untuk negaranya, untuk rakyatnya dulu. Tapi dalam takaran yang ekstrem, maka ini akan menghadirkan tantangan bahkan permasalahan baru di dunia saat ini. Karena yang harusnya kita bersatu mencari solusi, akhirnya kita seperti sektoral, masing-masing, sendiri-sendiri," tuturnya.
Dalam penjelasannya, AHY turut mengutip pemikiran Thucydides mengenai ketimpangan kekuatan antarnegara melalui ungkapan the strong do what they can, the weak suffer what they must.
"Artinya ketika national interest first dan dikaitkan dengan semangat ini, maka tidak ada pilihan atau sedikit pilihan bagi negara-negara selain memperkuat dirinya sendiri. Karena tidak mau menjadi korban, menjadi the weak yang suffering di dunia yang penuh ketidakpastian," imbuhnya.
AHY juga menekankan bahwa Indonesia telah menjalankan diplomasi melalui politik luar negeri bebas aktif. Prinsip tersebut, menurutnya, tercermin dari keterlibatan para pemimpin dan diplomat Indonesia dalam berbagai forum internasional.
"Foreign policy kita bebas aktif, tentu kita sudah sangat menyadari betapa pentingnya bebas aktif ini, ditunjukkan dengan hadirnya pemimpin kita dan para diplomat kita di berbagai forum multinasional, multilateral. Di PBB, di BRICS, di G20, OKI, ASEAN, termasuk World Economic Forum," ujarnya.
Ia menyebut ada empat prinsip yang perlu menjadi landasan dalam menjalankan peran Indonesia di tingkat global, yakni mengutamakan kedaulatan negara, memperluas kemitraan, memperkuat pengaruh internasional, serta memastikan kebijakan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
AHY kemudian menegaskan pentingnya Indonesia menjadi negara berkekuatan menengah yang memiliki pengaruh. Ia menilai Indonesia mempunyai modal berupa kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk yang besar, posisi strategis, dan kemampuan diplomasi.
"Indonesia punya sumber daya alam yang besar, penduduk yang besar, posisi strategis, diplomasi yang piawai."
Meski demikian, AHY mengingatkan bahwa upaya memperkuat peran Indonesia di luar negeri harus diawali dengan pembenahan di dalam negeri. Ia mengaitkan hal tersebut dengan prinsip dalam komunitas hubungan internasional, yakni foreign policy begins at home, everything begins at home.
"Jadi sebelum kita memproyeksikan diri kita ke luar, sebelum kita ingin menghadirkan policy atau foreign policy dan diplomasi yang efektif, terlebih dahulu selesaikan masalah rumah tangga kita. Our domestic issues, kita harus selesaikan dulu dengan kebijakan dengan segala upaya terbaik kita," tuturnya.
(Sumber: Antara)
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia (RI) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Selasa, 13 Oktober 2026 menyampaikan bahwa Indonesia harus menjadi kekuatan menengah yang berpengaruh (influential middle power) dalam percaturan geopolitik internasional mengingat suara negara ini semakin didengar, dirasakan, dan semakin ditunggu kehadirannya. Pernyataan itu dilontarkan AHY dalam acara pembukaan Konvensi Nasional (Vennas) XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) 2026 yang diselenggarakan di President University di Kota Jababeka, Cikarang, Provinsi Jawa Barat. (Antara)