Ntvnews.id, Moskow - Sekretaris Jenderal Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) Kao Kim Hourn menegaskan bahwa negara-negara anggota ASEAN tidak memiliki tujuan untuk meninggalkan penggunaan dolar Amerika Serikat (AS). Fokus utama kawasan tersebut adalah memperkuat perekonomian, salah satunya melalui pengembangan ekonomi digital.
Kao menjelaskan bahwa upaya memperkuat ekonomi regional tidak berkaitan dengan agenda dedolarisasi, melainkan melalui kerja sama ekonomi yang sedang dirundingkan dalam Perjanjian Kerangka Kerja Ekonomi Digital ASEAN atau Digital Economy Framework Agreement (DEFA).
“Jadi, menurut saya, ini bukan tentang beralih dari penggunaan mata uang internasional atau mengupayakan dedolarisasi, melainkan tentang bagaimana membangun perekonomian yang kuat melalui Perjanjian Kerangka Kerja Ekonomi Digital ASEAN (DEFA), yang selama ini sedang kami rundingkan,” kata Kao kepada RIA Novosti yang dipublikasi pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Baca Juga: Menlu ASEAN Tegaskan Persatuan Kawasan di Tengah Krisis Global
Menurut Kao, perkembangan ekonomi digital diyakini akan membawa perubahan terhadap dinamika berbagai pengaturan mata uang yang digunakan dalam transaksi.
Ia menyampaikan bahwa perundingan DEFA telah rampung dan perjanjian tersebut direncanakan untuk ditandatangani pada November 2026. Proses ratifikasi diharapkan berlangsung sekitar tahun berikutnya, sebelum implementasi mulai dijalankan.
“Kami baru saja menyelesaikan perundingan Perjanjian Kerangka Kerja Ekonomi Digital ASEAN, yang akan ditandatangani pada November tahun ini. Kami berharap perjanjian tersebut dapat diratifikasi sekitar tahun depan, dan kemudian implementasinya dapat dimulai,” ucapnya.
Baca Juga: ASEAN Bahas Kabut Asap Lintas Batas Jelang KTT Manila
Kao menambahkan, penerapan DEFA akan membuka peluang bagi negara-negara anggota ASEAN untuk melakukan transaksi menggunakan sistem pembayaran digital tanpa harus bergantung pada mata uang fisik. Menurut dia, sistem pembayaran tersebut akan menjadi bagian penting dalam perkembangan perekonomian kawasan.
ASEAN didirikan pada 1967 dan kini terdiri atas 11 negara anggota, yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam.
(Sumber: Antara)
Arsip foto - Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn. (Antara)