Ntvnews.id, Washington D.C - Gelombang panas ekstrem mulai melanda sebagian besar wilayah Amerika Serikat pada pekan ini dan diperkirakan akan berdampak pada sejumlah agenda besar, termasuk perayaan Hari Kemerdekaan ke-250 AS serta pelaksanaan pertandingan Piala Dunia 2026.
Peneliti cuaca ekstrem dan kebakaran hutan dari Imperial College London, Theodore Keeping, menyebut fenomena cuaca panas yang melanda Amerika Serikat saat ini merupakan dampak dari krisis iklim global yang semakin nyata.
"Iklim yang dimiliki negara ini saat ini pada dasarnya berbeda dari iklim yang ada ketika para pendiri bangsa menandatangani Deklarasi Kemerdekaan," ujar Keeping, seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu, 4 Juli 2025.
Berdasarkan analisis World Weather Attribution, sebuah konsorsium internasional peneliti iklim, fenomena tekanan udara tinggi atau heat dome telah membawa suhu panas dan kelembapan tinggi ke wilayah tengah dan timur Amerika Serikat, serta sebagian wilayah selatan Kanada.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa gelombang panas dengan intensitas seperti saat ini tergolong sangat jarang terjadi, dengan probabilitas sekitar satu kali dalam 200 tahun. Namun, para peneliti menegaskan bahwa tanpa kenaikan suhu global sebesar 1,4 derajat Celsius akibat emisi gas rumah kaca, peristiwa serupa kemungkinan tidak akan terjadi bahkan dalam rentang ribuan tahun.
Baca Juga: Dari Warung Kopi hingga Bengkel, Muncul 'Sosok' Teman Baru Pelaku Usaha di Era Digital
Dampak gelombang panas mulai terasa di Washington DC, ketika ribuan warga berkumpul untuk mengikuti rangkaian perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat. Pada Jumat siang waktu setempat, sejumlah agenda dalam acara Great American State Fair terpaksa ditunda hingga sore hari, sementara pengunjung diminta meninggalkan area kegiatan demi alasan keselamatan.
Media lokal NBC Washington melaporkan lebih dari belasan orang mendapatkan penanganan medis akibat gangguan kesehatan yang dipicu suhu ekstrem. Sebanyak 11 orang di antaranya bahkan harus dilarikan ke rumah sakit sebelum lokasi acara ditutup sementara.
Cuaca ekstrem ini juga diperkirakan memengaruhi agenda olahraga internasional. Pertandingan Piala Dunia antara Prancis dan Paraguay yang dijadwalkan berlangsung di Philadelphia pada Sabtu diprediksi berlangsung dalam kondisi panas yang sangat berbahaya.
Sementara itu, Dinas Cuaca Nasional Amerika Serikat (NWS) memperkirakan suhu udara di sejumlah wilayah dapat mencapai 40,5 derajat Celsius. Bahkan, beberapa daerah berpotensi mencatatkan rekor suhu tertinggi harian, bulanan, hingga rekor sepanjang sejarah.
NWS memperingatkan bahwa kondisi cuaca tersebut berisiko meningkatkan kasus penyakit akibat panas, terutama bagi kelompok rentan, lansia, serta masyarakat yang tidak memiliki akses memadai terhadap fasilitas pendingin udara.
Gelombang panas yang kini melanda Amerika Serikat menjadi salah satu peringatan terbaru mengenai dampak perubahan iklim global yang semakin nyata dan berpotensi mengganggu berbagai aktivitas sosial, ekonomi, hingga agenda internasional berskala besar.
Seorang wanita berjalan di bawah sinar matahari saat gelombang panas dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius di Duisburg, Jerman, Rabu, 24 Juni 2026. (Antara)