Ntvnews.id, Jakarta - Piala Dunia 2026 diperkirakan berlangsung di bawah bayang-bayang cuaca musim panas yang ekstrem di Amerika Utara. Suhu udara yang tinggi, tingkat kelembapan yang ekstrem, serta potensi badai petir disebut dapat menjadi hambatan selama turnamen berlangsung.
Lembaga World Weather Attribution memperkirakan sekitar seperempat pertandingan berpotensi digelar dalam kondisi cuaca yang melampaui batas aman yang direkomendasikan. Sementara itu, penelitian dari Climate Central menyebut perubahan iklim telah meningkatkan risiko suhu ekstrem yang dapat memengaruhi performa pemain pada 97 dari total 104 pertandingan.
Profesor Fisiologi dari University of Oregon, Chris Minson, menjelaskan bahwa pesepak bola secara alami menghasilkan panas tubuh dalam jumlah besar ketika bertanding.
"Sekitar 75 persen energi yang digunakan saat berolahraga berubah menjadi panas. Hanya sekitar 25 persen yang benar-benar digunakan untuk aktivitas fisik," kata Minson seperti dikutip dari Reuters, Sabtu, 13 Juni 2026.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Sudah Dimulai, Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina Belum Kantongi Visa AS
Menurut Minson, kelembapan tinggi menjadi persoalan utama karena keringat hanya mampu mendinginkan tubuh apabila dapat menguap secara efektif. Kondisi tersebut diperkirakan akan terjadi di sejumlah kota penyelenggara, seperti Houston, Miami, Dallas, dan Monterrey.
Selain suhu panas, faktor ketinggian juga menjadi perhatian. Mexico City yang berada sekitar 2.240 meter di atas permukaan laut dinilai dapat menyulitkan pemain yang belum memiliki waktu cukup untuk beradaptasi dengan kondisi setempat.
FIFA menyatakan setiap pertandingan akan disertai jeda hidrasi selama tiga menit pada masing-masing babak. Namun, Minson menilai langkah tersebut belum cukup untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.
"Jika ada pemain yang terlihat linglung, tidak bisa berpikir dengan jelas atau bahkan kolaps di lapangan, mereka harus segera didinginkan," tegasnya.
Federasi Sepak Bola Iran dikabarkan mengajukan permohonan kepada FIFA untuk mengizinkan para pemain Timnas Iran mengenakan ban lengan hitam ketika menghadapi Mesir pada laga Grup G Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Stadion Seattle, Ame (Antara)
Pandangan serupa disampaikan Profesor Ilmu Biologi dari Dartmouth College, Ryan Calsbeek. Ia menilai kombinasi suhu panas dan kelembapan tinggi berpotensi memengaruhi ritme pertandingan.
"Suhu dan kelembapan yang lebih tinggi kemungkinan akan memperlambat permainan. Dalam pertandingan yang berlangsung lebih dari 90 menit, pemain akan kesulitan menjaga keseimbangan antara tenaga eksplosif dan daya tahan jangka panjang," ujarnya.
Ancaman cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan para pemain. Pan American Health Organization juga mengingatkan para wisatawan yang datang ke kota-kota tuan rumah Piala Dunia 2026 untuk menjaga kondisi tubuh dengan tetap terhidrasi selama berada di wilayah Amerika Utara yang tengah mengalami musim panas.
Selain memperbanyak konsumsi air putih, PAHO menyarankan wisatawan mencari tempat teduh untuk beristirahat serta mengurangi aktivitas fisik ketika suhu udara berada di atas ambang normal guna mencegah gangguan kesehatan akibat paparan panas berlebih.
Upacara pembukaan Piala Dunia FIFA 2026 sebelum pertandingan pembuka Grup A Babak Pertama Piala Dunia antara Meksiko dan Afrika Selatan di Estadio Azteca (Stadion Meksiko) di Kota Meksiko, Meksiko pada 11 Juni 2026. (Antara)