BGN Instruksikan SPPG Utamakan Produk Lokal untuk Program MBG

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Mei 2026, 16:43
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dikonfirmasi wartawan usai meluncurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) modular yang di bangun PT Krakatau Stell di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa 12 Mei 2026.ANTARA/Nur Imansyah. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dikonfirmasi wartawan usai meluncurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) modular yang di bangun PT Krakatau Stell di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa 12 Mei 2026.ANTARA/Nur Imansyah. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) menginstruksikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar mengutamakan penggunaan produk lokal, termasuk telur dan bahan pangan lain dari dalam negeri, dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala BGN Dadan Hindayana juga meminta setiap SPPG memprioritaskan pasokan bahan pangan dari peternak dan pelaku usaha lokal guna mendukung keberlangsungan ekonomi masyarakat di daerah.

‎“SPPG diminta mengutamakan produk dan produksi lokal, termasuk untuk kebutuhan telur dalam Program MBG," katanya dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

Menurut Dadan, apabila mitra pelaksana MBG memiliki koperasi maupun jaringan pemasok sendiri, pasokan bahan pangan tetap diharapkan menyerap hasil produksi peternak lokal di masing-masing wilayah.

Kebijakan tersebut, kata dia, sejalan dengan arahan Presiden yang menginginkan kebutuhan telur dalam Program MBG wajib berasal dari produksi dalam negeri.

‎“Sesuai keinginan Presiden, telur untuk Program MBG, terutama wajib menggunakan produksi lokal," tuturnya.

Baca Juga: Momen Prabowo Dapat Surat dari Anak SD: Terima Kasih Bapak Atas MBG

Meski demikian, Dadan menjelaskan bahwa BGN tidak menetapkan menu nasional yang seragam untuk seluruh wilayah.

Pihaknya hanya menetapkan standar komposisi gizi guna memastikan kualitas makanan dalam Program MBG tetap terjaga.

Selain itu, BGN juga telah menempatkan tenaga ahli gizi di setiap SPPG yang bertugas menyusun menu berdasarkan potensi pangan daerah sekaligus menyesuaikan dengan kebutuhan nutrisi penerima manfaat program.

‎“BGN tidak menetapkan menu nasional, tetapi membuat standar komposisi gizi. Oleh sebab itu, kami menempatkan pengawas gizi di setiap SPPG agar bisa membuat menu berbasis potensi sumber daya lokal dan kesukaan masyarakat lokal," ucap Dadan.

Baca Juga: Kapolri Sebut Polri Bangun 33 SPPG di Wilayah 3T untuk Program MBG

Selain bertujuan mendukung ketahanan pangan nasional, kebijakan penggunaan produk lokal juga diharapkan mampu menjaga stabilitas harga hasil peternakan di tingkat produsen.

Menurut Dadan, Program MBG harus mampu memberikan manfaat ganda, baik dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat maupun penguatan ekonomi lokal.

Dadan menilai produksi telur dalam negeri saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan Program MBG selama distribusi dan penyerapan dilakukan secara optimal.

Karena itu, ia meminta seluruh pelaksana program terus memperkuat kemitraan dengan peternak lokal di masing-masing daerah.

‎“Selama produksi lokal tersedia dan kualitasnya baik, itu yang harus diprioritaskan. Program MBG memang dirancang agar mampu mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal," ujarnya.

(Sumber: Antara)

x|close