Ntvnews.id, Riyadh - Arab Saudi dilaporkan melancarkan sejumlah serangan udara rahasia ke wilayah Iran sebagai respons atas serangan yang sebelumnya menghantam kerajaan tersebut selama konflik di Timur Tengah berlangsung.
Dilansir dari AFP, Jumat, 15 Mei 2026, Menurut dua pejabat Barat dan dua pejabat Iran yang mengetahui persoalan itu, serangan yang sebelumnya tidak dipublikasikan tersebut menandai peningkatan signifikan dalam konflik kawasan sekaligus menunjukkan keberanian baru Riyadh dalam menghadapi rival regionalnya.
Serangan yang dilakukan Angkatan Udara Saudi itu disebut berlangsung pada akhir Maret lalu. Salah satu pejabat Barat menyebut operasi tersebut sebagai “serangan balasan sebagai pembalasan atas serangan terhadap Arab Saudi.”
Saat dimintai tanggapan, pejabat senior Kementerian Luar Negeri Arab Saudi tidak memberikan jawaban langsung mengenai kabar serangan tersebut. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran juga belum memberikan komentar resmi.
Selama ini, Arab Saudi dikenal mengandalkan perlindungan militer Amerika Serikat karena hubungan pertahanan yang erat dengan Washington. Namun perang selama 10 pekan terakhir dinilai membuat kerajaan tersebut semakin rentan setelah sejumlah serangan berhasil menembus sistem pertahanan yang didukung AS.
Konflik kawasan pun disebut semakin meluas. Setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, Teheran dilaporkan menyerang enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk menggunakan rudal dan drone.
Target serangan Iran tidak hanya pangkalan militer AS, tetapi juga fasilitas sipil, bandara, infrastruktur minyak, hingga penutupan Selat Hormuz yang berdampak terhadap perdagangan global.
Uni Emirat Arab juga dilaporkan ikut melakukan operasi militer terhadap Iran sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal sebelumnya. Keterlibatan Arab Saudi dan UEA disebut memperlihatkan bahwa negara-negara Teluk mulai melakukan pembalasan terhadap Iran meskipun sebagian besar aktivitas konflik tidak diumumkan ke publik.
Meski demikian, pendekatan Riyadh dan Abu Dhabi disebut berbeda. UEA dinilai lebih agresif terhadap Iran, sedangkan Arab Saudi tetap berupaya membuka jalur komunikasi diplomatik dengan Teheran, termasuk melalui duta besar Iran di Riyadh.
Arsip - Kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz (21/7/2019). (ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa) (Antara)
Pejabat senior Kementerian Luar Negeri Saudi menegaskan negaranya tetap mengedepankan upaya meredakan ketegangan.
"Kami menegaskan kembali posisi konsisten Arab Saudi yang menganjurkan de-eskalasi, pengendalian diri, dan pengurangan ketegangan dalam upaya mencapai stabilitas, keamanan, dan kemakmuran kawasan dan rakyatnya."
Para pejabat Iran dan Barat juga menyebut Arab Saudi sempat memberi tahu Iran mengenai serangan tersebut. Setelah itu berlangsung komunikasi diplomatik intensif disertai ancaman pembalasan lanjutan yang kemudian menghasilkan kesepahaman untuk meredakan konflik.
Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai pola serangan dan deeskalasi itu menunjukkan kedua pihak memahami risiko besar jika konflik terus berkembang.
Menurutnya, langkah tersebut memperlihatkan “pengakuan pragmatis di kedua pihak bahwa eskalasi yang tidak terkendali membawa biaya yang tidak dapat diterima.”
Kesepahaman informal itu mulai berjalan pada pekan sebelum Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 7 April lalu.
Salah satu pejabat Iran mengonfirmasi adanya kesepakatan deeskalasi antara Teheran dan Riyadh.
Langkah itu disebut bertujuan untuk “menghentikan permusuhan, melindungi kepentingan bersama, dan mencegah peningkatan ketegangan.”
Baca Juga: Taget KAI Tutup 40 Perlintasan Liar pada 2026
Hubungan Iran dan Arab Saudi memang telah lama diwarnai rivalitas sebagai kekuatan utama Syiah dan Sunni di Timur Tengah. Namun kedua negara mulai memulihkan hubungan diplomatik setelah kesepakatan damai yang dimediasi China pada 2023.
Dalam opini yang dimuat Arab News, mantan kepala intelijen Saudi Pangeran Turki al-Faisal menyinggung sikap kerajaan selama konflik berlangsung.
"Ketika Iran dan pihak lain mencoba menyeret kerajaan ke dalam neraka 'Kehancuran', kepemimpinan kami memilih untuk menanggung penderitaan yang disebabkan oleh tetangga demi melindungi nyawa dan harta benda warganya."
Ketegangan sempat meningkat pada Maret ketika Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan menyatakan kerajaan “berhak untuk mengambil tindakan militer jika dianggap perlu.”
Tak lama kemudian, Arab Saudi menetapkan atase militer Iran dan empat staf kedutaan sebagai persona non grata.
Data Reuters dari pernyataan Kementerian Pertahanan Saudi menunjukkan lebih dari 105 serangan drone dan rudal menghantam Arab Saudi pada pekan 25-31 Maret. Namun jumlah itu menurun drastis menjadi sekitar 25 serangan pada periode 1-6 April setelah upaya deeskalasi dilakukan.
Arab Saudi juga sempat memanggil duta besar Irak pada 12 April untuk memprotes serangan yang berasal dari wilayah Irak.
Ketegangan kembali meningkat pada awal masa gencatan senjata ketika Kementerian Pertahanan Saudi melaporkan 31 drone dan 16 rudal ditembakkan ke wilayah kerajaan pada 7-8 April. Situasi tersebut sempat mendorong Riyadh mempertimbangkan pembalasan lebih lanjut terhadap Iran dan Irak sebelum diplomasi kembali dipercepat.
Ilustrasi - Kilang dan terminal minyak di Arab Saudi. ANTARA/Reuters/Ahmed Jadallah/aa. (Antara)