Ntvnews.id, Jakarta - Ketua Umum PARFI '56 (Persatuan Artis Film Indonesia 56) Marcella Zalianty ikut bereaksi terkait fenomena hebohnya kecaman poster film horor terbaru "Aku Harus Mati" karya produser Irsan Yapto yang tengah menjadi sorotan publik.
Banyak masyarakat yang menilai jika poster film baru tersebut dianggap memberikan kesan negatif dengan judul yang janggal seolah mengajak orang untuk melukai diri. Film Aku Harus Mati sebenarnya menceritakan tentang kisah seseorang yang terlilit pinjol dan pesugihan.
Namun konotasi 'Aku Harus Mati' diartikan luas sebagai dugaan bentuk ajaka bunuh diri, jika dilihat dari kaca mata orang yang mengidap gangguan mental. Menurut Marcella Zalianty, tidak selamanya judul film yang cukup sadis memiliki alur yang dan cerita yang sama.
Baca juga: Pemprov DKI Turunkan Baliho Film 'Aku Harus Mati', Pramono: Iklan Sensitif Tak Boleh Terulang
Bisa saja, penggunaan judul sengaja dibuat sensasional demi menarik perhatian penonton. Namun dalam hal ini, Marcella selaku aktor dan produser film juga menyoroti kebebasan dan pemilihan diksi sineas dalam judul yang dipakai.
Baliho film Aku Harus Mati (Instagram @pram.doel)
"Impact dari sebuah film tidak hanya filmnya, tetapi dari sebuah poster atau gambar visual unsurnya tidak soal mendidik, tetapi mental health seseorang dan hal sensitif memang perlu kita pikirkan," kata Marcella Zalianty di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, 6 April 2026.
Menurut Marcella, dalam proses penerbitan film rumah produksi harus lebih dulu melewati proses screening di Lembaga Sensor Film (LSF), yang menjadi gerbang utama sebelum film itu tayang di bioskop.
"Kan ada Lembaga Sensor Film, harusnya kalo poster sebelum itu tayang kan bisa ditinjau, bukan juga membatasi kreativitas, jangan juga nantinya terlalu sempit itu juga justru ga baik untuk kita sebagai kreator," sahutnya.
Film yang sudah mulai tayang sejak 2 April 2026 ini, diminta untuk lebih bijak dalam pemilihan kata untuk judul poster dan tepat sasaran dalam melakukan promosi, agar tidak menyinggung banyak pihak.
"Tapi jika memiliki indikasi sampai menyentuh tajam sampai ingin melukai dirinya sendiri tentu itu bisa ditinjau lagi, tapi ini menjadi pembelajaran kita bersama dan bukan berarti filmnya harus berhenti tapi mungkin dikasih alternatif," pungkasnya.
Marcella Zalianty (NTVNews)