Cinta Beda Alam dan Agama: Film Piye To Kih? Cerita Realita Gen-Z Soal Memantaskan Diri

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Okt 2026, 23:53
thumbnail-author
April
Penulis & Editor
Bagikan
Cast film Piye To Kih? Cast film Piye To Kih? (NTVNews)

Ntvnews.id, Jakarta - Sutradara sekaligus produser film Piye To Kih? menceritakan asal usul penamaan film dengan menggunakan bahasa Jawa. Menurutnya, bahasa Jawa seringkali terlontar saat realita tak sesuai dengan harapan. 

Dalam film ini, Ito Mavin ingin menceritakan kisah komedi atau drama romansa, dengan membawa sebuah hook fiksi yang cukup ekstrem sekaligus menggelitik. Menggandeng kreator Woko Channel, film produksi Miracle Pictures ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 19 November 2026.

"Bayangkan seseorang menjalin hubungan romansa dengan seorang perempuan. Masalahnya, perempuan ini sudah beda alam, beda agama pula," ujar Ito Mavin di kawasan Jakarta Pusat, 19 Oktober 2026.

Baca Juga: Kasus Ferdy Sambo Dibuat Film Dokumenter 'Skenario Sang Jenderal'

"Kalau beda agama saja temboknya sudah tinggi, ini ditambah beda alam sekalian. Jadi temboknya sudah luar biasa tinggi."

Di balik premisnya yang unik dan penuh kerumitan atau keruwetan khas masyarakat urban Piye To Kih? menyimpan pesan filosofis yang menyentuh realita kehidupan modern. Ito menegaskan bahwa fokus utama cerita sejatinya adalah tentang perjuangan manusia dalam memantaskan diri.

Menurutnya, fenomena anak muda zaman sekarang sering kali terjebak dalam godaan untuk berpura-pura menjadi orang lain demi mendapatkan apa yang diinginkan. Padahal, kunci utamanya terletak pada refleksi internal.

"Satu-satunya cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan adalah dengan membuat diri kita menjadi pantas untuk mendapatkannya," tutur Ito.

Dara Sarasvati, yang dipercaya memerankan karakter utama bernama Sukma, mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam proyek ini terasa sangat personal.

Baginya, isu-isu yang diangkat dalam film sangat dekat dengan problematika sosial saat ini, tidak hanya bagi Gen-Z tetapi juga bagi generasi yang lebih senior—atau yang ia sebut sebagai remaja vintage.

Selain tentang keberanian menawarkan value diri, Dara menyoroti tema besar lainnya dalam film ini, yaitu isu keikhlasan.

"Keikhlasan itu gampang diucapkan, tapi susah diimplementasikan. Padahal sejatinya itu adalah sebuah paradoks. Ketika kita ikhlas, sebenarnya kita sedang melepaskan penjara yang kita buat sendiri," ungkap Dara.

Ia berharap kehadiran film ini tidak sekadar memberikan hiburan visual yang segar di bioskop, tetapi juga membawa pulang perenungan mendalam bagi setiap penontonnya.

"Film ini sifatnya entertaining, edukatif, dan punya makna yang dalam. Kalau bahasa anak zaman sekarang: You don't have to be someone different just to fit in," tutupnya.

x|close