Waspada “Silent Killer”: Riwayat Keluarga Tingkatkan Risiko Kanker Ovarium, Deteksi Dini Jadi Kunci Keselamatan Perempuan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Jun 2026, 16:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Columbia Asia Hospital BSD Columbia Asia Hospital BSD (Istimewa)

Ntvnews.id, Tangerang Selatan - Kanker ovarium kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan di Indonesia. Dijuluki sebagai "Silent Killer", penyakit ini seringkali tidak menunjukkan gejala spesifik pada stadium awal, sehingga mayoritas pasien baru terdiagnosis saat kondisisudah memasuki stadium lanjut.

Menanggapi fenomena ini, Columbia Asia Hospital BSD menekankan pentingnyakesadaran masyarakat terhadap faktor risiko genetik, terutamariwayat keluarga, sebagai langkah preventif yang krusial.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory 2022, terdapatsekitar 14.896 kasus baru kanker ovarium di Indonesia dengan angka kematian mencapai 9.581 jiwa. Tingginyaangka fatalitas ini sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan diagnosis. Data medis menunjukkan bahwaangka harapan hidup (survival rate) 5 tahun bagi pasienkanker ovarium yang terdeteksi pada stadium awal dapatmencapai lebih dari 90%, namun angka ini merosot tajamhingga di bawah 30% jika baru ditemukan pada stadium akhir.

dr. Klemens Edward, Sp.OG, Dokter Spesialis Kebidanandan Kandungan di Columbia Asia Hospital BSD, menjelaskanbahwa riwayat keluarga merupakan salah satu determinanrisiko yang paling signifikan namun sering kali terabaikanoleh masyarakat umum.

Baca Juga: Vanessa Trump Umumkan Idap Kanker Payudara, Jalani Perawatan Medis Intensif

“Kanker ovarium sering kali tidakmenunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal, seperti perutkembung atau begah yang sering dianggap gangguanpencernaan biasa. Salah satu faktor risiko yang sangat pentingadalah riwayat keluarga. Jika ada anggota keluarga inti sepertiibu atau saudara kandung yang memiliki riwayat kankerovarium atau kanker payudara, risiko seseorang meningkatsecara signifikan

. Melalui edukasi yang tepat dan deteksi dini, kami ingin mendorong wanita untuk lebih proaktif melakukankonsultasi medis secara berkala,” ujar dr. Klemens.

Selain faktor genetik, beberapa gejala yang patut diwaspadaioleh masyarakat luas meliputi perut yang sering terasa penuh, nyeri panggul, cepat kenyang saat makan, hingga perubahanpola buang air besar atau kecil. Jika gejala ini menetap selamalebih dari dua minggu, masyarakat diimbau untuk segeramelakukan skrining melalui pemeriksaan fisik, USG transvaginal, atau tes penanda tumor (CA-125).

Columbia Asia Hospital BSD  <b>(Istimewa)</b> Columbia Asia Hospital BSD (Istimewa)

dr. Jeffry Oeswadi, MARS, FISQua, Hospital Director Columbia Asia Hospital BSD, menyatakan komitmen rumahsakit dalam menyediakan layanan kesehatan preventif yang komprehensif bagi perempuan.

"Kami berkomitmen untukmemberikan pelayanan kesehatan yang kredibel. Kami tidakhanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pada upayapreventif. Dengan fasilitas skrining yang modern dan timmedis ahli, kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuktidak lagi menunda pemeriksaan kesehatan reproduksi. Deteksi dini bukan hanya soal diagnosis, tapi soalmemberikan kesempatan hidup yang lebih baik bagi para perempuan Indonesia,” tegas dr. Jeffry.

Columbia Asia Hospital BSD terus berupaya memperkuatperan edukatifnya melalui berbagai kampanye Kesehatan perempuan guna mencegah keterlambatan diagnosis dan menurunkan angka kematian akibat kanker ginekologi di Indonesia. Tidak hanya itu sebagai bentuk keseriusannyamereka juga menyediakan layanan Pap Smear dengan hargayang terjangkau dan di dukung dengan dokter spesialis yang berpengalaman.

x|close