Kemendes Rancang Proyek Percontohan Transportasi Perdesaan Ramah Lingkungan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Okt 2026, 16:13
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, saat peluncuran program Anyer-Panarukan 3R hasil kolaborasi Pemkab Serang dan Pemkab Situbondo di Jakarta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, saat peluncuran program Anyer-Panarukan 3R hasil kolaborasi Pemkab Serang dan Pemkab Situbondo di Jakarta (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menggagas rencana strategis untuk menghadirkan proyek percontohan (pilot project) transportasi perdesaan dan daerah tertinggal yang ditenagai oleh teknologi kendaraan listrik di berbagai wilayah.

“Saya membayangkan bagaimana ya kalau kita buat pilot project, kita susun proposalnya, kita buat pilot project entah itu di Pulau Timur, atau Pulau Flores, atau Pulau Sumba,” ujar Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PPDT) Kemendes PDT, Samsul Widodo, saat menyampaikan arahannya dalam Forum Transportasi Perdesaan dan Daerah Tertinggal 2026 yang diikuti secara daring dari Jakarta pada hari Senin, 19 Oktober 2026.

Samsul menjelaskan bahwa inisiatif proyek percontohan ini memiliki banyak manfaat krusial, salah satunya adalah untuk memperluas akses mobilitas serta mempermudah mobilitas masyarakat yang tinggal di kawasan tertinggal.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penerapan transportasi ramah lingkungan berbasis listrik di perdesaan harus dirancang secara matang dan disesuaikan secara spesifik dengan karakteristik geografis wilayah serta kebutuhan riil masyarakat setempat.

Dalam paparannya, Samsul menyoroti persoalan mendasar terkait jauhnya jarak tempuh yang harus dilalui masyarakat di daerah tertinggal untuk mengakses fasilitas dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Berdasarkan data, rata-rata jarak yang harus ditempuh warga di daerah tertinggal menuju puskesmas terdekat mencapai 24,7 kilometer. Angka ini terpaut sangat jauh jika dibandingkan dengan wilayah non-tertinggal, di mana jarak rata-ratanya hanya berkisar lima kilometer.
 

Oleh karena itu, penguatan sektor transportasi perdesaan dinilai bukan sekadar instrumen untuk memperbaiki konektivitas dan mobilitas warga, tetapi juga memiliki potensi besar dalam mendukung penyerapan produk industri kendaraan listrik nasional di tingkat domestik.

Samsul mengungkapkan bahwa gagasan modernisasi transportasi perdesaan ini sebelumnya pernah dirintis di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk dengan menguji coba pemanfaatan kendaraan berbasis listrik. Menurut pandangannya, ekosistem kendaraan listrik sudah saatnya diperluas hingga menyentuh pelosok desa, sehingga masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau pun tetap memiliki alternatif sarana transportasi yang andal dan sesuai dengan kondisi medan setempat.

Melalui penyelenggaraan forum transportasi perdesaan ini, ia berharap para pemangku kepentingan dapat merumuskan rekomendasi konkret terkait proyek percontohan yang nantinya akan dibahas dan dimatangkan bersama kementerian serta lembaga terkait lainnya.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close