IHSG Dibuka Melemah ke Level 6.201 di Tengah Kekhawatiran Kebijakan Ekspor Satu Pintu

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Mei 2026, 10:39
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Pekerja berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 2 Februari 2026. IHSG perdagangan sesi I ditutup melemah 442,44 poin atau 5,31 persen ke posisi 7.887,16, dengan k Pekerja berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 2 Februari 2026. IHSG perdagangan sesi I ditutup melemah 442,44 poin atau 5,31 persen ke posisi 7.887,16, dengan k (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa 26 Mei 2026 dibuka melemah 4,55 poin atau 0,07 persen ke posisi 6.201,80.

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 1,83 poin atau 0,29 persen ke posisi 629,38.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan IHSG berpotensi bergerak variatif di tengah pelaku pasar mencermati kebijakan ekspor satu pintu komoditas Sumber Daya Alam (SDA).

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 5.880- 6.220,” ujar Nico dalam kajiannya, Selasa 26 Mei 2026.

Baca juga: Awal Pekan, IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.187

Dari dalam negeri, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kebijakan ekspor satu pintu komoditas SDA melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) akan diterapkan bertahap mulai 1 Juni 2026 dan berlaku penuh pada 1 Januari 2027.

Tahap awal akan mencakup ekspor CPO, batu bara, dan feronikel, dengan PT DSI dicantumkan sebagai co-exporter dalam sistem Indonesia National Single Window (INSW).

Selama masa transisi, perusahaan masih dapat mengekspor lewat mitra dagang masing-masing, namun pemerintah menegaskan tidak boleh ada manipulasi harga.

Kebijakan ini bertujuan memperbaiki tata kelola ekspor SDA dan mengurangi perbedaan data perdagangan Indonesia dengan negara mitra, seperti AS dan China yang selama ini mencapai puluhan miliar dolar AS.

Nico menilai, kebijakan tersebut menunjukkan upaya pemerintah memperketat kontrol devisa dan transparansi perdagangan komoditas strategis.

Dalam jangka pendek, menurutnya, pasar akan merespons hati-hati karena pelaku usaha harus menyesuaikan proses administrasi dan skema ekspor baru, sehingga berpotensi menambah biaya kepatuhan, serta memunculkan kekhawatiran efisiensi.

Baca juga: IHSG Ditutup Menguat 1,10 Persen, Saham Energi dan Barang Baku Jadi Penopang

"Namun jika implementasi berjalan baik, kebijakan ini dapat memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perdagangan global, meningkatkan akurasi penerimaan negara, serta meminimalkan praktik under invoicingatau transfer pricing," ujar Nico.

Nico menjelaskan, dampaknya akan paling terasa pada emiten batu bara,minyak kelapa sawit (CPO), dan nikel, karena investor akan mencermati apakah skema baru ini memperlancar tata niaga atau justru memperlambat arus ekspor dan cash flow perusahaan.

Perbedaan perspektif tersebut yang diharapkan dapat dijembatani agar pelaku pasar dan investor tidak merespon negatif secara berkelanjutan.

"Selain itu, image pemerintah yang mengalami penurunan, juga menjadikan pelaku pasar dan investor selalu melihat sesuatu yang negatif terkait dengan kebijakan yang mulai diterapkan ini. Hal ini yang membuat IHSG dan pasar obligasi terus merana, menguat tapi tak berdaya seperti kurang bergairah," ujar Nico.

Dari mancanegara, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa negosiasi antara AS dengan Iran berjalan baik, dan AS tinggal sedikit lagi mencapai kesepakatan dengan Iran untuk membuka Selat Hormuz.

Sementara itu, Iran menuntut konflik antara Israel dengan Hizbullah di Lebanon untuk dihentikan.

Sentimen tersebut mendorong berbagai indeks saham global menghijau pada perdagangan Senin (25/05), dan membuat harga minyak koreksi yaitu WTI turun 6,30 persen dan Brent turun 7,40 persen.

Pada perdagangan Senin (25/05) kemarin, bursa saham Eropa kompak menguat, diantaranya Euro Stoxx 50 menguat 1,87 ersen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,22 persen, indeks DAX Jerman menguat 2,01 persen, serta indeks CAC 40 Prancis menguat 1,76 persen.

Sementara itu, bursa AS Wall Street libur memperingati Memorial Day pada Senin (25/05).

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 266,19 poin atau 0,41 persen ke 64.892,00, indeks Shanghai melemah 30,45 poin atau 0,73 persen ke 4.122,12, indeks Hang Seng menguat 41,47 poin atau 0,16 persen ke 25.647,50, dan indeks Strait Times melemah 5,63 poin atau 0,11 persen ke 5.064,92. (Sumber:Antara)

x|close