Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terang-terangan mengarahkan fokus strateginya pada minyak Iran di tengah konflik yang terus memanas. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa penguasaan sumber energi menjadi prioritas utama.
"Sejujurnya, hal favorit adalah mengambil minyak di Iran," kata Trump dalam wawancara dengan Financial Times.
Pernyataan ini muncul saat perang telah memasuki bulan kedua, bersamaan dengan peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah. Ribuan tentara tambahan dikerahkan untuk memperluas operasi dan memperkuat posisi Washington.
Trump juga mengisyaratkan kemungkinan merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak terpenting Iran yang menjadi tulang punggung distribusi energi negara tersebut.
Baca Juga: Xpander Hantam Sedan Mewah Sampai Hancur
"Mungkin kita merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak. Kita memiliki banyak pilihan," ucap Trump.
Pulau di Teluk Persia ini memiliki nilai strategis tinggi karena menjadi jalur utama ekspor minyak Iran ke pasar global. Menguasainya berarti membuka peluang mengendalikan aliran energi Iran. Trump bahkan menilai pertahanan Iran di wilayah tersebut lemah.
"Saya rasa mereka tidak memiliki pertahanan yang kuat. Kita bisa merebutnya dengan sangat mudah," cetusnya.
Namun, ia mengakui bahwa langkah tersebut akan menuntut kehadiran militer dalam jangka waktu tertentu.
Komentar Trump menunjukkan pergeseran pendekatan dari sekadar operasi militer menjadi potensi penguasaan langsung atas aset energi. Ia juga membandingkan strategi ini dengan kebijakan AS di Venezuela, yang menargetkan kontrol sektor minyak tanpa batas waktu.
Baca Juga: Indonesia Kecam Keras Serangan yang Tewaskan Personel UNIFIL, Desak Investigasi Transparan
Di saat yang sama, Pentagon telah menyiapkan operasi darat dengan pengerahan hingga 10.000 personel, dengan ribuan tentara, termasuk Marinir, sudah tiba di kawasan.
Rencana menyasar Pulau Kharg membawa risiko besar. Washington telah diperingatkan bahwa langkah tersebut dapat memperpanjang konflik sekaligus meningkatkan ancaman bagi pasukan AS.
Ketegangan ini juga mengguncang pasar energi global. Harga minyak melonjak lebih dari 50 persen dalam sebulan, dengan Brent melampaui US$116 per barel.
Situasi ini menegaskan bahwa konflik bukan hanya soal militer, tetapi juga perebutan kendali atas sumber energi strategis yang menentukan keseimbangan geopolitik dunia.
Presiden Amerika Serikat (US), Donald Trump. ANTARA/Andolu/pri. (Antara)