Lebaran 2026 Berpotensi Gak Bareng Muhammadiyah, Ini Kata Kemenag

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Mar 2026, 17:07
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Aesad Hidayat. ANTARA/Asep Firmansyah Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Aesad Hidayat. ANTARA/Asep Firmansyah (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Arsad Hidayat menyampaikan bahwa berdasarkan perhitungan hisab, posisi hilal pada akhir Ramadhan masih belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan oleh negara anggota MABIMS yang terdiri dari Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

“Kalau berdasarkan hitungan hisab, ketinggian hilal itu sekitar 0 sampai 3 derajat dan yang tertinggi berada di wilayah Aceh. Kemudian untuk elongasi 4 sampai 6 derajat,” kata Arsad dalam press briefing di Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.

Ia menjelaskan bahwa dalam standar MABIMS, ketinggian hilal minimal harus mencapai 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.

Berdasarkan perhitungan yang ada, meskipun dari sisi ketinggian hilal berpotensi memenuhi syarat, namun nilai elongasi masih belum mencapai batas minimal dalam kriteria imkan rukyat versi MABIMS.

Karena itu, penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026 antara pemerintah dan Muhammadiyah berpotensi kembali berbeda, seperti yang terjadi pada penetapan awal Ramadhan.

Baca Juga: Kemenag Keluarkan Panduan Takbiran di Bali Jika Idulfitri Bareng Nyepi

“Kalau kriteria imkan rukyat versi MABIMS itu elongasinya minimal 6,4 derajat. Jadi kalau berdasarkan kriteria visibilitas hilal MABIMS, memang masih belum memungkinkan untuk bisa dilihat,” ucap Arsad.

Meski demikian, Arsad menegaskan bahwa kepastian penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pemerintah melalui Kementerian Agama.

“Keputusan akhir tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan dilaksanakan pada 19 Maret 2026,” katanya.

Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin memprakirakan kemungkinan perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah antara pemerintah dan Muhammadiyah.

Baca Juga: Kemenag Bakal Gelar Sidang Isbat Penetapan 1 Syawal Hari Ini

Muhammadiyah sendiri telah menetapkan lebih dahulu 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Adapun pemerintah menggunakan metode hisab rukyat yang berpedoman pada standar MABIMS.

Berdasarkan perhitungan tersebut, saat waktu Maghrib pada 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal diperkirakan belum memenuhi kriteria MABIMS sehingga 1 Syawal kemungkinan jatuh pada 21 Maret 2026.

(Sumber: Antara)

x|close