Rayakan Satu Abad di Indonesia, Jemaat Ahmadiyah dan Lintas Komunitas di Makassar Serukan Solidaritas Kemanusiaan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Feb 2026, 12:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) bekerja sama dengan komunitas Gusdurian Makassar dan Jalin Harmoni Sulawesi Selatan menyelenggarakan Talkshow & Roadshow Bedah Buku bertajuk Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) bekerja sama dengan komunitas Gusdurian Makassar dan Jalin Harmoni Sulawesi Selatan menyelenggarakan Talkshow & Roadshow Bedah Buku bertajuk (Istrimewa)

Ntvnews.id, Makassar - Menandai kiprah selama 100 tahun di Nusantara, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) bekerja sama dengan komunitas Gusdurian Makassar dan Jalin Harmoni Sulawesi Selatan menyelenggarakan Talkshow & Roadshow Bedah Buku bertajuk "Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan".

Acara yang berlangsung di Ruang Latimojong, Hotel Remcy, Makassar ini dihadiri oleh 100 orang terdiri dari tokoh agama, akademisi, aktivis kemanusiaan, dan perwakilan pemerintah.

Buku antologi yang dibedah merupakan karya yang merekam testimoni dari 100 tokoh nasional mengenai kiprah Ahmadiyah. Kegiatan ini bertujuan untuk mempertegas komitmen JAI dalam merawat kebhinekaan melalui moto yang konsisten digaungkan: Love for All, Hatred for None.

Amir Daerah JAI Sulawesi Selatan, Barat, dan Tengah, Ashraf Ahmad Muhiddin, dalam sambutannya menekankan bahwa kehadiran Ahmadiyah di Indonesia Timur bukan sekadar eksistensi keagamaan, melainkan bagian dari denyut nadi masyarakat melalui berbagai bakti kemanusiaan inklusif, seperti donor mata rutin dan bantuan bencana.

Baca Juga: Peluncuran Logo Imlek Nasional 2026: Simbol Persatuan dalam Keberagaman Indonesia

“Meskipun sering menghadapi persekusi, Jemaat Ahmadiyah secara konsisten memilih jalan damai dan tidak pernah membalas dengan kekerasan, meneladani akhlak Rasulullah SAW,” ujar Ashraf.

Akademisi terkemuka, Prof. Dr. KH. Afifuddin Harissa, Lc., M.Ag., menyoroti bahwa toleransi di Indonesia sering kali masih berhenti pada taraf slogan. Beliau menekankan perlunya dekonstruksi prasangka dan pembukaan ruang dialog akademik yang lebih sehat.

“Agama bagi pribadi mungkin sudah selesai, tapi keberagamaan, bagaimana agama bersentuhan dengan kepentingan manusia lain belum selesai. Kita perlu menyempurnakan sikap toleransi sebagai esensi dari ajaran Islam itu sendiri,” tegas Prof. Afifuddin.

Senada dengan hal tersebut, tokoh pluralisme Prof. Dr. Qasim Mathar memberikan catatan kritis mengenai peran lembaga keagamaan dalam menjaga harmoni. Ia menyerukan agar lembaga seperti MUI berani mereformasi diri dan mencabut sekat-sekat dogmatis yang menghambat persaudaraan kebangsaan.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) bekerja sama dengan komunitas Gusdurian Makassar dan Jalin Harmoni Sulawesi Selatan menyelenggarakan Talkshow &amp; Roadshow Bedah Buku bertajuk  <b>(Istimewa)</b> Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) bekerja sama dengan komunitas Gusdurian Makassar dan Jalin Harmoni Sulawesi Selatan menyelenggarakan Talkshow & Roadshow Bedah Buku bertajuk (Istimewa)

Dari perspektif eksternal, Dr. Ir. Yonggris Lao (Ketua Permabudi Sulsel) memuji inklusivitas Ahmadiyah yang mampu membawakan rasionalitas dalam beragama dan context-non-confrontative. Ia juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan pola pendekatan kepada Generasi Z yang lebih tertarik pada aksi sosial nyata dibandingkan debat dogmatis yang kaku.

Sementara itu, Christina J. Hutubessy, S.Th., M.Si. (Direktur Oase Intim) memaparkan pentingnya teologi kemanusiaan sebagai titik temu lintas iman.

“Semua agama memiliki potensi besar untuk menghargai martabat manusia. Tugas kita adalah memperbanyak aktor strategis dan narasi positif untuk melawan intoleransi,” ungkapnya.

Baca Juga: Indonesia dan Singapura Bahas Penguatan Keberagamaan di Negeri Serumpun

Kegiatan ini menghasilkan risalah rekomendasi bagi perdamaian nasional yang lahir dari Makassar untuk Indonesia. Melalui bedah buku ini, JAI berharap keberadaannya di satu abad kedua tetap menjadi katalisator bagi solidaritas dan harmoni di akar rumput, sekaligus mempertegas bahwa perbedaan tafsir adalah kekayaan intelektual bangsa, bukan alasan untuk diskriminasi.

Acara ditutup dengan doa bersama untuk keberkahan NKRI dan sesi diskusi hangat yang mempertemukan berbagai perspektif dari kelompok minoritas maupun mayoritas di Sulawesi Selatan.

x|close