Ntvnews.id, Jakarta - Kasus dugaan perundungan dan pelecehan verbal yang dialami seorang siswi SMPN 214 Jakarta kembali menyita perhatian publik. Dugaan tindakan tidak pantas itu mencuat setelah sang korban menceritakan pengalaman pahitnya kepada sang ayah, yang kemudian menyampaikan kronologi kejadian tersebut ke publik.
Dalam pengakuannya, korban mengaku awalnya memilih bersikap acuh terhadap ejekan yang muncul di media sosial. Ia merasa tidak perlu menanggapi selama perlakuan tersebut belum mengarah langsung kepadanya.
“Status ngata-ngatain aku, aku kan ga pernah mau sampai berurusan banget kan. Jadi aku kayak bodo amat gitu, selagi mereka belum pernah lihat,” kata sang anak, dilansir dari video akun Instagram sang ayah @thepaparock pada Senin, 19 Januari 2026.
Namun, situasi berubah ketika sejumlah pelaku mulai bertindak lebih jauh. Korban menyebut ada empat orang yang diduga terlibat, salah satunya membuat stiker tanpa izin menggunakan potongan video dirinya saat sedang berlatih menari.
Baca Juga: Infografik: Ini Ciri-ciri dan Tindakan Pelaku Child Grooming, Waspada!
“Terus, di minggu ini, itu di empat orang itu. Satu orang itu, dia itu buat stiker aku. Ya pokoknya ya tanpa seizin aku deh. Nah itu tuh nyebar di satu grup itu,” ungkapnya.
Stiker tersebut tidak hanya menampilkan wajah korban, melainkan seluruh tubuhnya. Konten itu kemudian dibagikan di sebuah grup percakapan, yang menurut korban berisi komentar-komentar bernada merendahkan dan mengarah pada pelecehan.
“Bukan muka, kayak seluruh badan aku,” ujarnya menegaskan.
Korban juga mengungkapkan bahwa potongan gambar tersebut diambil saat ia tengah berlatih menari bersama teman-temannya. Dari situlah, percakapan tidak pantas mulai bermunculan.
“Ya gatau, pokoknya dia tuh buat stiker pas aku lagi latihan dance. Itu kan aku buat video dance kan sama temen-temen aku tuh rame. Nah, tiga orang ini nih, mereka nih yang ngomongin aku. Dan yang ngomonginnya tuh udah parah banget,” katanya.
Baca Juga: Anak 11 Tahun Dinyatakan Menghilang di Depok
Dalam percakapan grup yang dibacakan korban, terdapat kalimat-kalimat yang dinilai mengandung unsur pelecehan verbal dan seksual. Pesan-pesan tersebut disertai kiriman foto dan komentar bernada cabul, yang membuat korban merasa tertekan dan tidak aman.
Menanggapi kejadian tersebut, sang ayah menegaskan akan membawa persoalan ini ke pihak sekolah. Ia menyatakan akan mendatangi SMP Negeri 214 Jakarta untuk meminta klarifikasi dan memastikan penanganan kasus dilakukan secara adil.
Ia juga menyoroti ironi yang dirasakannya, lantaran sebelumnya sempat menjadi pembicara dalam kegiatan kampanye stop perundungan dan pelecehan di lingkungan sekolah.
Menurut sang ayah, kasus ini tidak hanya menyeret satu anak, tetapi juga berdampak pada anak lainnya di dalam keluarga. Ia pun mengajak pihak sekolah dan orang tua untuk lebih aktif mengedukasi anak-anak agar menghentikan praktik perundungan dan pelecehan, terutama terhadap anak di bawah umur.
Baca Juga: Reaksi Kocak Bahlil Saat Wajahnya Dijadikan Meme Balerina
Ia berharap pihak sekolah dapat bersikap bijak dan tegas dalam mengambil keputusan, serta tidak melindungi pihak yang terbukti melakukan kesalahan.
“Bullying harus di stop dan stop melecehkan. Apalagi masih di bawah umur,” tegasnya.
Kasus ini pun menjadi sorotan publik, sekaligus pengingat bahwa perundungan dan pelecehan di lingkungan pendidikan masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan penanganan tegas dan berpihak pada korban.
Ayah dan Anaknya yang Jadi Korban Pelecehan Verbal (Instagram)