Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan bahwa peningkatan anggaran riset nasional akan diarahkan untuk mendukung penelitian di bidang pangan, ketahanan energi, serta penguatan industri strategis, sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto.
"Tentu sesuai dengan arah Bapak Presiden, Bapak Presiden fokus pada pangan. Jadi pangan ini, swasembada beras sudah tercapai, sebentar lagi jagung, kemudian yang penting lagi adalah bawang putih, kemudian juga kedelai, serta produk-produk protein hewani, seperti apa? Seperti susu, sapi, dan lain sebagainya," kata Arif Satria di Jakarta, Kamis, 15 Januari 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Arif saat menanggapi pertanyaan wartawan usai mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan bersama para rektor dan guru besar perguruan tinggi negeri maupun swasta di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Baca Juga: Prabowo Bakal Kunjungi Inggris Pekan Depan, Jajaki Kerja Sama Pendidikan
Ia menjelaskan Presiden Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk meningkatkan dana penelitian sekitar 50 persen dari anggaran yang saat ini berada di kisaran Rp8 triliun atau sekitar 0,3 persen dari produk domestik bruto. Dengan demikian, akan ada tambahan alokasi dana riset hingga sekitar Rp4 triliun.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria (NTVnews)
Menurut Arif, peningkatan anggaran tersebut diharapkan mampu memperkuat dukungan terhadap berbagai program strategis nasional, mulai dari mendorong pertumbuhan ekonomi, menurunkan angka kemiskinan, hingga membuka lapangan kerja baru. Selain itu, penguatan riset juga dinilai penting untuk menopang proyek-proyek strategis hilirisasi.
Ia menambahkan, riset di sektor pangan menjadi prioritas utama guna memperkokoh ketahanan pangan nasional. Di luar pangan, perhatian juga diberikan pada riset yang mendukung ketahanan dan transisi energi, khususnya pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai langkah mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Arif menyebutkan, dana riset juga akan difokuskan pada penguatan industri strategis, baik industri berbasis teknologi tinggi maupun sektor yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, seperti tekstil, sepatu, elektronik, dan semikonduktor, demi meningkatkan daya saing nasional.
Baca Juga: Istana: Prabowo Tekankan Kemandirian Bangsa di Tengah Geopolitik Global
"Jadi, dengan serapan tenaga kerja yang banyak, seperti industri sepatu, industri tekstil, industri elektronik, semikonduktor, ya, itu menyerap banyak tenaga kerja, sehingga itu harus diselamatkan. Sehingga kita diharapkan memiliki kekuatan daya saing dalam industri-industri itu," ucapnya.
Selain itu, BRIN saat ini juga tengah mempersiapkan penguatan riset di berbagai sektor tersebut, termasuk di bidang dirgantara melalui percepatan riset pesawat N219 hasil kerja sama BRIN dengan PT Dirgantara Indonesia, serta pengembangan pesawat amfibi untuk memperkuat konektivitas antarpulau.
"Dan itu akan sangat bagus dan membanggakan, karena itulah cara kita untuk meningkatkan konektivitas antar pulau di Indonesia," imbuhnya.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria (NTVnews)