Menlu Tata Ungkap Misi Indonesia Usung Budi Gunadi Sadikin Jadi Dirjen WHO

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Okt 2026, 04:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Luar Negeri RI yang baru dilantik, Arrmanatha Nasir, Menteri Luar Negeri RI yang baru dilantik, Arrmanatha Nasir, (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir mengungkapkan tujuan Indonesia mengusulkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebagai Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pencalonan tersebut diharapkan dapat mendorong terwujudnya tata kelola kesehatan global yang lebih adil, terutama bagi negara-negara berkembang.

Tata menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Gedung Palapa, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026 beberapa jam setelah serah terima jabatan Menteri Luar Negeri.

Ia menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan di Kementerian Luar Negeri tidak mengubah arah diplomasi Indonesia. Komitmen tersebut mencakup pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) serta upaya mengusung Budi Gunadi Sadikin untuk memimpin WHO.

"Semangat yang sama mendasari pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Kawanan BBB untuk periode 2029-2030," kata Tata.

Melalui pencalonan di DK PBB, Indonesia ingin mendorong lembaga tersebut menjadi lebih efektif, representatif, transparan, dan demokratis.

Selain itu, pemerintah juga menaruh perhatian pada pencalonan Budi sebagai pimpinan organisasi kesehatan dunia. Upaya ini ditujukan untuk memperjuangkan sistem kesehatan global yang lebih berkeadilan bagi negara-negara berkembang.

"Begitu pula pencalonan Menteri Kesehatan kita sebagai Direktur Jendera WHO demi arsitektur kesehatan global yang lebih adil bagi negara berkembang," ucap Menlu itu.

Tata menambahkan, Indonesia akan memanfaatkan berbagai forum kerja sama internasional untuk memperjuangkan agenda tersebut. Sejumlah wadah yang akan dioptimalkan antara lain G20, BRICS, MIKTA, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), APEC, dan D8.

Melalui kelompok-kelompok tersebut, Indonesia berupaya memastikan berbagai persoalan dan kepentingan prioritas negara berkembang mendapat perhatian dalam pembahasan di tingkat internasional.

Baca Juga: Prabowo Lantik Arrmanatha Nasir Jadi Menteri Luar Negeri Baru

Dalam persaingan menuju posisi Direktur Jenderal WHO, Budi akan menghadapi tiga kandidat lain yang diusulkan negara masing-masing. Mereka adalah Hanan Mohammed Al-Kuwari dari Qatar, Hanan Balkhy dari Arab Saudi, serta Hans Henri P. Kluge yang diusulkan Belgia.

Sebelumnya, pada Agustus 2026, Budi mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto mendorong dirinya untuk maju dalam pencalonan pimpinan WHO.

"Itu kan amanah dari Bapak Presiden. Jadi pastilah saya akan kerja buat Bapak Presiden, apapun tugas dari Beliau akan kita jalankan dengan sebaik-baiknya," kata Budi usai rapat di kompleks parlemen.

Pemilihan Direktur Jenderal WHO dilakukan oleh Majelis Kesehatan Dunia atau World Health Assembly (WHA), yang merupakan badan pengambil keputusan tertinggi organisasi tersebut dan beranggotakan perwakilan seluruh negara anggota WHO.

Sebelum pemilihan berlangsung, Dewan Eksekutif WHO akan menjalankan proses nominasi dengan menyaring kandidat, menyusun daftar pendek, serta mengajukan maksimal tiga nama untuk dipertimbangkan oleh Majelis Kesehatan Dunia.

Selanjutnya, Majelis Kesehatan Dunia akan menentukan Direktur Jenderal WHO dari kandidat yang telah dinominasikan melalui mekanisme tersebut.

x|close