Kemenag: Kurikulum Cinta Bentuk Kesadaran Ekologis Siswa Sejak Dini

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Okt 2026, 14:11
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Agama Nasaruddin Umar. ANTARA/HO-Kemenag Menteri Agama Nasaruddin Umar. ANTARA/HO-Kemenag (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia resmi mengembangkan Kurikulum Cinta, sebuah terobosan pendidikan bernuansa ekoteologi yang dirancang untuk menanamkan kesadaran serta kepedulian merawat lingkungan hidup kepada para peserta didik sejak usia dini.

Pengumuman strategis tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam acara bertajuk Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata yang berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Acara ini dihadiri oleh sedikitnya 650 siswa-siswi tingkat SD, SMP, hingga SMA/sederajat yang mewakili berbagai wilayah di Indonesia.

Dalam pemaparannya, Menag Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa Kurikulum Cinta telah dirancang dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Kurikulum ini berfokus pada pembentukan karakter peserta didik melalui pilar relasi harmonis dan interaktif antara Tuhan, manusia, dan alam semesta.

"Kini muncul kesadaran baru di kalangan pelajar untuk memperlakukan makhluk hidup lain dengan penuh kasih sayang," ujar Menag Nasaruddin Umar, dikutip 12 Oktober 2026.

Baca Juga: Menag Nasaruddin Berhentikan Rektor UINSA

Berdasarkan hasil evaluasi penerapan kurikulum yang melibatkan ratusan pengawas madrasah serta pengelola pondok pesantren, pihak Kemenag mencatat adanya dampak positif yang signifikan di tengah masyarakat dan lingkungan sekolah.

Menag memaparkan sejumlah contoh konkret dari perubahan perilaku dan cara pandang para siswa setelah mendapatkan pemahaman ekoteologi ini:

Empati terhadap Sesama Makhluk Hidup: Terdapat siswa sekolah dasar yang enggan membunuh nyamuk karena dorongan rasa kasihan terhadap kelangsungan hidup anak-anak nyamuk tersebut.

Kepedulian Sosial-Lingkungan: Anak-anak secara sukarela merawat dan memberi makan hewan peliharaan milik tetangga yang sedang ditinggal pergi mudik.

Menurut Menag, fenomena ini menandakan lahirnya pemahaman mendalam yang selaras dengan prinsip kerukunan dan kearifan universal.

"Muncullah sebuah kesadaran 'Tat Tvam Asi' sebagaimana dikenal dalam ajaran Hindu-Buddha, yakni 'Engkau adalah aku, aku adalah engkau'. Prinsip ini tidak hanya berlaku antarmanusia, tetapi juga diwujudkan kepada tumbuh-tumbuhan dan binatang," jelasnya.

Melalui pendekatan Kurikulum Cinta, Kemenag berupaya melakukan pergeseran paradigma (paradigm shift) di kalangan generasi muda. Alam tidak lagi dipandang sekadar sebagai objek eksploitasi untuk memenuhi kebutuhan manusia, melainkan diakui sebagai mitra senasib sepenanggungan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Kemenag Atur Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan Keagamaan

Langkah strategis Kemenag ini juga dirancang untuk bersinergi dan mendukung program-program keberlanjutan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), guna memastikan ekosistem bumi tetap terjaga secara berkelanjutan demi kesejahteraan umat manusia di masa depan.

Menariknya, Menag menekankan bahwa kemajuan sains modern serta teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) saat ini tidak bertentangan dengan ajaran agama maupun kearifan lokal nenek moyang, melainkan justru memperkuat kebenarannya.

Menag merujuk pada berbagai literatur ilmiah internasional, salah satunya karya fenomenal peneliti agama Karen Armstrong yang berjudul "The Sacred Nature", serta pandangan para ahli lingkungan dan neurolog dunia.

Ia mencontohkan bagaimana teknologi AI masa kini mampu mendeteksi serta memperbesar getaran suara yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan, membuktikan bahwa flora memiliki bahasa dan sistem kehidupannya sendiri.

"AI membuktikan bahwa tumbuh-tumbuhan itu semuanya bersuara. Ada teknologi AI yang mampu melipatgandakan 20 ribu kali suara itu, dan ternyata suara dedaunan tersebut ditemukan bertasbih. Jadi mari kita kembali bersahabat dengan alam. Jangan menjadikan alam itu hanya sebagai objek, tapi jadikan sebagai partner dalam mendukung kesejahteraan hidup kita bersama," pungkas Menag.

Melalui peluncuran Kurikulum Cinta ini, Kemenag berharap institusi pendidikan keagamaan di seluruh Indonesia mulai dari madrasah hingga pesantren dapat menjadi garda terdepan dalam gerakan tobat ekologis dan pelestarian lingkungan nasional.

x|close