Negara yang Ikut Berkurban, Ketika Bantuan Sapi Presiden Jadi Simbol Kepedulian

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Mei 2026, 11:50
thumbnail-author
Timothy Ivan Triyono
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Timothy Ivan Triyono Plt Deputi II Badan Komunikasi Pemerintah Timothy Ivan Triyono Plt Deputi II Badan Komunikasi Pemerintah (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Saya seorang WNI yang beragama Kristen Protestan.

Saya tidak merayakan Iduladha. Saya tidak tumbuh dengan pengalaman menunggu pembagian daging kurban selepas salat Ied. Tetapi saya lahir dan besar di Indonesia. Negeri yang membuat saya mengerti bahwa kebahagiaan sebuah hari raya tidak pernah hanya dimiliki oleh pemeluk agamanya sendiri.

Di Indonesia, hari raya selalu punya gema sosial yang lebih luas.

Saat Lebaran tiba, tetangga yang nonmuslim ikut merasakan hangatnya silaturahmi. Saat Natal datang, banyak saudara muslim yang turut menjaga gereja dan ikut mengucapkan selamat. Dan saat Iduladha hadir, ada jutaan keluarga kecil di kampung-kampung yang bisa menikmati daging bersama keluarganya.

Karena itu, ketika Presiden Prabowo Subianto menyalurkan ribuan sapi kurban ke berbagai daerah di Indonesia, saya melihatnya bukan semata sebagai ritual keagamaan. Saya melihatnya sebagai bentuk empati negara kepada rakyatnya.

Di media sosial, orang bisa memperdebatkan apa saja.

Termasuk sapi kurban Presiden.

Ada yang menghitung anggarannya. Ada yang membandingkan dengan program lain. Ada yang bertanya, “Mengapa negara harus membagikan sapi kurban?”

Timothy Ivan Triyono Plt Deputi II Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) bersama Qodari Kepala Bakom <b>(Ist)</b> Timothy Ivan Triyono Plt Deputi II Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) bersama Qodari Kepala Bakom (Ist)

Tetapi mungkin ada satu hal yang luput dari perdebatan itu: rakyat kecil tidak melihatnya dengan bahasa anggaran. Mereka melihatnya dengan bahasa kebahagiaan.

Dan sering kali, rakyat punya cara yang sangat sederhana untuk merasa diperhatikan oleh negaranya.

Baca Juga: Ketum Gekrafs Apresiasi Langkah Pemerintah Turunkan Pajak Penulis dari 15% Jadi 1,5%

Saya membayangkan sebuah kampung kecil di pinggir Indonesia. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk perdebatan elite media sosial. Di sana, anak-anak berlari mengelilingi sapi besar yang baru tiba di halaman masjid. Orang-orang berkumpul setelah salat Iduladha. Ibu-ibu mulai menyiapkan bumbu. Bapak-bapak membantu panitia kurban. Suasana kampung terasa hidup.

Lalu seseorang berkata:

“Itu sapi dari Presiden.”

Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi sebagian rakyat, itu sangat berarti. Karena di balik kalimat itu, ada perasaan bahwa negara mengingat mereka.

Bahwa mereka tidak sendirian.

Bahwa ada pemimpin yang memahami: bagi sebagian keluarga Indonesia, makan daging bersama saat Iduladha adalah kemewahan yang hanya datang setahun sekali.

Dan di situlah sebenarnya makna bantuan hewan kurban Presiden harus dipahami.

Apalagi bantuan sapi kurban itu tidak jatuh dari langit. Sapi-sapi itu dibeli dari peternak lokal di berbagai daerah. Artinya ada ekonomi rakyat yang bergerak. Ada peternak yang tersenyum karena hasil ternaknya dihargai dengan baik. Ada perputaran uang di desa. Ada denyut ekonomi kecil yang ikut hidup.

Baca Juga: Prabowo Hadiri Jamuan Santap Malam Kenegaraan di Istana Élysée Paris

Inilah yang sering tidak tertangkap dalam perdebatan media sosial: kebijakan publik tidak selalu bisa diukur hanya dengan angka matematis. Ada dimensi psikologis. Ada dimensi sosial. Ada dimensi kebangsaan.

Bagi saya pribadi, ada sesuatu yang menyentuh ketika membayangkan di satu sisi Presiden sedang menjalankan agenda kenegaraan di luar negeri, tetapi di sisi lain ribuan sapi bantuan Presiden sudah tiba di berbagai kota, desa, dan pesantren di Indonesia.

Timothy Ivan Triyono Plt Deputi II Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) <b>(Ist)</b> Timothy Ivan Triyono Plt Deputi II Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) (Ist)

Tubuhnya mungkin jauh.

Tetapi perhatian beliau tetap sampai.

Saya teringat masa kecil saya. Tinggal di lingkungan yang beragam membuat saya terbiasa melihat tetangga saling berbagi makanan saat hari raya. Ada kebahagiaan yang sederhana, tetapi hangat. Tidak ada yang merasa paling berhak atas kebahagiaan. Semua ikut merasakan suasana.

Mungkin itu juga sebabnya saya melihat bantuan sapi kurban Presiden bukan sebagai isu agama semata, tetapi sebagai pesan sosial dan kebangsaan.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.814 per Dolar AS Terdorong Gencatan Senjata AS-Iran

Di luar hiruk-pikuk media sosial, saya membayangkan malam Iduladha di banyak kampung Indonesia: asap sate mulai naik, ibu-ibu memasak di dapur, anak-anak tertawa, dan warga berkumpul dengan perasaan bahagia.

Sebagai seorang Kristen Protestan, saya mungkin tidak merayakan Iduladha secara iman. Tetapi sebagai sesama anak bangsa, saya ikut merasakan hangatnya semangat pengorbanan, kepedulian, dan kebersamaan yang dibawa hari raya ini.

Selamat Hari Raya Iduladha bagi saudara-saudaraku umat Muslim di seluruh Indonesia.

Semoga Iduladha menghadirkan kedamaian, keberkahan, dan kebahagiaan di setiap rumah, serta semakin menguatkan rasa persaudaraan kita sebagai bangsa yang besar dan beragam.

Oleh: Timothy Ivan Triyono Plt Deputi II Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI)

x|close