Ntvnews.id , Jakarta - Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Triyanto, mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tawar di Indonesia berpotensi mengandung logam berat yang berbahaya apabila dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang.
Triyanto menjelaskan bahwa efek negatif dari logam berat tersebut baru akan terasa jika seseorang mengonsumsi daging ikan sapu-sapu dalam jumlah sangat besar, yakni hingga delapan kilogram per minggu secara terus-menerus.
"Jadi masyarakat yang sudah terlanjur mengonsumsi atau tidak tahu (pernah) makan siomai yang mengandung daging ikan sapu-sapu, nggak usah khawatir, nggak usah cemas ya," katanya di kantor BRIN di Jakarta, Kamis, 30 April 2026
Baca Juga: Manfaat Air Purifier untuk Kesehatan dan Kualitas Hidup di Dalam Ruangan
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa peringatan ini tidak boleh dianggap remeh.
Triyanto mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap bahan baku makanan olahan ikan, terutama yang berpotensi menggunakan daging ikan sapu-sapu oleh oknum pedagang yang tidak bertanggung jawab.
"Yang penting kita lebih peduli. Kita tanya sama penjualnya, 'mohon maaf bang ini dagingnya sehat atau nggak?', begitu ya," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa secara kandungan nutrisi, ikan sapu-sapu sebenarnya tidak berbeda jauh dengan ikan lain karena mengandung protein, karbohidrat, dan lemak yang dibutuhkan tubuh.
Namun, karakteristik ikan ini yang bersifat pemakan segala (omnivora) membuatnya rentan menyerap berbagai zat berbahaya dari lingkungan, termasuk logam berat.
Baca Juga: BPOM Perketat Patroli Siber untuk Tekan Peredaran Obat dan Makanan Ilegal di Dunia Digital
Triyanto menambahkan bahwa logam berat yang masuk ke dalam tubuh ikan tidak dikeluarkan melalui proses ekskresi, melainkan terserap ke dalam organ seperti hati, lalu terikat pada protein dan menjadi bagian dari jaringan daging.
"Logam berat ini sifatnya bioakumulasi, dia tidak akan berkurang. Tapi karena sudah dipindah ke air yang bersih, (kandungannya) tidak akan nambah. Nah selama dia terkontrol di air bersih, (logam berat) yang sudah terserap itu tetap di situ," kata Triyanto menguraikan.
(Sumber: Antara)
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Triyanto (kiri) dalam kegiatan diskusi di Kantor BRIN, Jakarta, Kamis 30 April 2026. ANTARA/Sean Filo Muhamad (Antara)