IDAI Peringatkan Ancaman KLB Campak, Serukan Kejar Imunisasi Anak

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Mar 2026, 22:05
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
ilustrasi penanganan campak/ist ilustrasi penanganan campak/ist

Ntvnews.id, Jakarta - Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan terkait meningkatnya kasus campak di Indonesia dan menyerukan langkah cepat untuk mencegah potensi kejadian luar biasa (KLB). Organisasi profesi dokter anak tersebut menilai situasi saat ini membutuhkan respons serius dari pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Berdasarkan data yang disampaikan IDAI, sepanjang 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak di Indonesia dengan 11.094 kasus terkonfirmasi dan 69 kematian. Sementara hingga minggu ke-7 tahun 2026, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, serta empat kematian.

Di tingkat global, Indonesia bahkan menempati posisi kedua dengan jumlah kasus campak tertinggi di dunia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada Februari 2026, Indonesia mencatat 10.744 kasus, berada di bawah Yaman dan di atas India.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa kondisi ini harus ditangani secara serius melalui langkah cepat dan terkoordinasi.

“Kita harus bertindak cepat untuk melindungi anak-anak Indonesia. Imunisasi adalah hak dasar anak dan kewajiban kita untuk memastikan setiap anak terlindungi," ujar Piprim dalam keterangannya, Selasa, 10 Maret 2026.

IDAI merekomendasikan enam langkah strategis untuk menekan penyebaran campak dengan tiga fokus utama, yakni mengejar ketertinggalan imunisasi campak rubela, meningkatkan surveilans penyakit campak dan rubella, serta memperkuat kapasitas laboratorium diagnostik.

Organisasi tersebut mencatat bahwa cakupan imunisasi campak rubella dosis kedua (MR2) pada 2024 baru mencapai 82,3 persen, masih jauh dari target nasional sebesar 95 persen. Kondisi ini menyebabkan kekebalan kelompok atau herd immunity belum terbentuk secara optimal.

Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, menjelaskan bahwa salah satu penyebab menurunnya cakupan imunisasi adalah gangguan layanan kesehatan selama pandemi COVID-19.

"Pandemi COVID-19 telah menyebabkan disrupti layanan imunisasi rutin yang sangat signifikan. Banyak anak yang melewatkan jadwal imunisasinya, dan ini menciptakan kantong-kantong kerentanan di berbagai daerah. Yang perlu dipahami adalah bahwa imunisasi campak rubella aman dan efektif. Isu-isu tentang keamanan vaksin yang beredar di masyarakat tidak berdasar secara ilmiah," katanya.

"Vaksin MR yang digunakan di Indonesia telah melalui proses evaluasi ketat dan mendapatkan izin edar dari BPOM. Kami mengajak masyarakat untuk tidak ragu membawa anaknya imunisasi. Jika ada pertanyaan atau keraguan, silakan konsultasikan dengan tenaga kesehatan terpercaya," tambahnya.

Selain mengejar imunisasi, IDAI juga menyoroti pentingnya penanganan kasus campak secara tepat serta pengendalian infeksi untuk mencegah penularan lebih luas.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo, menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada obat antivirus khusus untuk campak sehingga penanganan bersifat suportif dan simptomatik.

"Dalam menangani campak, tata laksana bersifat suportif dan simptomatik karena belum ada antivirus spesifik. Namun ada satu intervensi yang sangat penting dan terbukti menurunkan angka kematian hingga 50% yaitu pemberian vitamin A sesuai rekomendasi WHO," ujarnya.

Dosisnya adalah 50.000 unit untuk bayi di bawah 6 bulan, 100.000 unit untuk usia 6 bulan sampai 1 tahun, dan 200.000 unit untuk anak di atas 1 tahun, diberikan selama 2 hari berturut-turut. Untuk anak dengan gizi buruk atau komplikasi mata, dosis tambahan diberikan pada 2 minggu berikutnya.

Selain itu, isolasi pasien sangat penting untuk mencegah penularan. Pasien campak menularkan virus sejak 4 hari sebelum hingga 4 hari setelah ruam muncul. Di rumah sakit, pasien harus dirawat di ruang isolasi airborne dengan ventilasi baik, dan petugas kesehatan harus menggunakan alat pelindung diri yang sesuai.

IDAI juga meminta seluruh dokter anak untuk meningkatkan pengawasan terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), khususnya campak dan rubella, dengan melaporkan setiap kasus ke dinas kesehatan melalui sistem measles-case based surveillance.

Dr. Piprim menegaskan bahwa kematian akibat campak seharusnya dapat dicegah jika imunisasi dilakukan secara optimal.

“Kematian akibat campak adalah kematian yang seharusnya tidak terjadi. Kita memiliki alat pencegahan yang aman, efektif, dan tersedia gratis di fasilitas kesehatan.”

Selain langkah medis, IDAI menilai edukasi masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan penyebaran penyakit ini. Tenaga kesehatan, termasuk dokter umum dan dokter spesialis anak yang telah mengikuti pelatihan Immunization Champion, didorong untuk aktif memberikan edukasi mengenai bahaya campak dan potensi komplikasinya.

IDAI mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama melindungi anak-anak Indonesia melalui imunisasi.

"Kematian akibat campak adalah kematian yang seharusnya tidak terjadi. Kita memiliki alat pencegahan yang aman, efektif, dan tersedia gratis di fasilitas kesehatan. Pemerintah telah menyediakan vaksin, tenaga kesehatan siap melayani, sekarang tinggal kesadaran dan kepedulian kita bersama sebagai bangsa," ujar mereka.

Mereka pun berpesan untuk lindungi anak-anak Indonesia dari campak. Jangan tunda imunisasi, jangan abaikan gejala, dan jangan ragu untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika ada tanda-tanda penyakit.

 

x|close