Manohara Ogah Dilabeli Sebutan Mantan Istri Pangeran Kelantan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Jan 2026, 10:25
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Manohara Odelia Pinot Manohara Odelia Pinot (Instagram)

Ntvnews.id, Jakarta - Manohara Odelia Pinot kembali menjadi sorotan publik, usai buka suara dan mengomentari soal imej yang melekat pada dirinya sebagai mantan istri Pangeran Kelantan.

Secara terbuka, Manohara mengimbau kepada seluruh media baik cetak, online atau televisi agar tidak menyebutnya sebagai mantan istri Tengku Fakhry alias Pangeran Kelantan. Bahkan aktris 33 tahun itu mengaku bahwa pernikahannya di 2008 silam, tidak dapat disebut sebagai pernikahan yang sah.

Rangkaian peristiwa yang dialaminya di usia muda kadang seringkali disalah artikan oleh publik, dan dalam hubungan tersebut tidak dilandasi persetujuan bebas maupun kesadaran penuh.

"Apa yang terjadi selama masa remaja saya, bukanlah hubungan romantis, bukan hubungan atas persetujuan bersama, dan bukan pernikahan yang sah,” kata Manohara di Instagram, 13 Januari 2026.

Bahkan Manohara pun mengaku bahwa ia tidak pernah berniat atau menjalin hubungan dengan Tengku Fakhry secara sukarela.

Baca Juga: Manohara Akui Putus dengan Kristian Hansen Karena Ketahuan Selingkuh

"Artinya, saya tidak memiliki pilihan nyata atau kemampuan untuk memberikan persetujuan,” sambungnya.

Salah satu poin utama yang disoroti Manohara adalah penggunaan label “mantan istri Raja Kelantan” yang kerap dilekatkan padanya dalam berbagai pemberitaan.

Baginya label tersebut tidak lah pantas ia dapat, dan berpotensi menyesatkan publik tentang pikirnya.

"Selama bertahun-tahun, saya berulang kali disebut dalam artikel dan judul berita sebagai, ‘Mantan istri'," sahutnya.

Lebih lanjut, Manohara juga meminta media dan berbagai platform digital untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan istilah saat merujuk pada dirinya.

"Saya meminta kepada media, editor, penulis, maupun platform digital (termasuk Google dan Wikipedia) untuk berhenti menggunakan label ini. Menerbitkan artikel dengan penggambaran yang salah ini bukan hanya tidak akurat, tetapi juga merupakan jurnalisme yang tidak etis," pungkasnya.

x|close