Nusantara Energy Forum 2026: Nurdin Tampubolon Tegaskan Teknologi Jadi Kunci Kemandirian Energi Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Apr 2026, 15:56
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis & Editor
Bagikan
Presiden Komisaris NT Corporation (NT Corp), Dr. Ir. Nurdin Tampubolon, M,M. Presiden Komisaris NT Corporation (NT Corp), Dr. Ir. Nurdin Tampubolon, M,M.

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Komisaris NT Corporation (NT Corp), Dr. Ir. Nurdin Tampubolon, M.M., menegaskan teknologi merupakan faktor utama dalam mewujudkan kemandirian energi Indonesia. 

Hal tersebut disampaikannya dalam forum energi nasional Nusantara Energy Forum 2026 di Nusantara Hall, NT Tower, Jakarta, pada Kamis, 23 April.

Menurut Nurdin, ada dua indikator utama yang menentukan apakah suatu negara dapat dikategorikan sebagai negara maju dan makmur. 

Pertama adalah pendapatan per kapita, yakni jumlah pendapatan rata-rata per orang dalam satu tahun. Negara maju umumnya memiliki pendapatan di atas 15 ribu dolar AS per kapita per tahun.

Indikator kedua adalah konsumsi energi per kapita. Dia mempertanyakan apakah seluruh masyarakat Indonesia sudah mendapatkan akses listrik secara merata, mulai dari Sabang hingga Merauke, termasuk wilayah terpencil seperti Pulau Rote hingga Miangas.

"Seberapa besar konsumsi energi per kapita kita? Apakah seluruh rakyat sudah mendapatkan elektrifikasi yang layak?" ujar Nurdin Tampubolon.

Tantangan Kemandirian Energi Indonesia

Nurdin menjelaskan pemerintah sebenarnya telah lama merancang berbagai program untuk mencapai kedaulatan energi. 

Namun, dalam implementasinya masih terdapat banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, terutama di tengah kondisi geopolitik global yang tidak stabil dan pertumbuhan ekonomi dunia yang belum signifikan.

Dia menilai, kemandirian energi seharusnya menjadi prioritas utama. Indonesia, menurutnya, tidak perlu bergantung pada impor energi karena memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang sangat besar.

Namun, realisasi bauran energi terbarukan hingga 2025 dinilai masih jauh dari target. Dari target minimal 25 persen, capaian saat ini baru berada di kisaran 12-15 persen.

Potensi Energi Terbarukan Belum Maksimal

Indonesia memiliki sumber energi terbarukan melimpah, mulai dari tenaga air (PLTA), panas bumi (geothermal), biomassa, hingga energi angin dan surya. Sayangnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

"Potensi PLTA kita puluhan ribu megawatt, tapi yang dimanfaatkan baru sekitar 10-15 persen," jelas Nurdin Tampubolon.

Dia juga menyoroti momentum global, khususnya dinamika di Timur Tengah, yang seharusnya dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat strategi pengembangan energi dalam negeri.

Presiden Komisaris NT Corporation (NT Corp), Dr. Ir. Nurdin Tampubolon, M,M. Presiden Komisaris NT Corporation (NT Corp), Dr. Ir. Nurdin Tampubolon, M,M.

Baca Juga: Nusantara Energy Forum 2026: Dirut Nusantara TV Soroti Urgensi Kedaulatan Energi di Tengah Geopolitik Global

Energi Nuklir dan Teknologi Modern

Di era digital saat ini, Nurdin turut mendorong agar Indonesia mulai mempertimbangkan energi nuklir sebagai salah satu opsi masa depan. 

Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuat pembangkit nuklir jauh lebih aman dengan sistem pengamanan berlapis terhadap radiasi.

Selain itu, Indonesia juga dinilai memiliki sumber daya uranium yang dapat dimanfaatkan.

Meski demikian, dia menegaskan tanpa nuklir pun Indonesia sebenarnya sudah mampu memenuhi kebutuhan energi melalui sumber terbarukan seperti air, angin, panas bumi, dan matahari.

Dukungan Kebijakan Pemerintah

Dalam kesempatan tersebut, Nurdin Tampubolon juga menyinggung arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) serta pemanfaatan energi dari sampah.

Program ini dinilai memiliki dua manfaat sekaligus, yakni mengatasi persoalan sampah dan menghasilkan energi alternatif.

"Kalau semua potensi ini dimaksimalkan, Indonesia sebenarnya tidak perlu lagi bergantung pada energi fosil," katanya.

Teknologi Lokal Jadi Penentu

Lebih jauh, Nurdin Tampubolon menekankan salah satu hambatan utama pengembangan energi di Indonesia adalah ketergantungan pada teknologi asing. 

Selama ini, pembangunan energi dinilai lebih banyak berbasis teknologi luar negeri, sementara peran anak bangsa masih terbatas sebagai pengguna.

Dia mendorong pemerintah untuk mengubah pendekatan dengan mengembangkan teknologi lokal, mulai dari eksplorasi hingga hilirisasi.

"Kalau kita terus bergantung pada teknologi luar, kita tidak akan pernah mandiri. Teknologi adalah kunci kemandirian," tegasnya.

Menurutnya, Indonesia tidak harus selalu menggunakan teknologi paling canggih, tetapi teknologi yang dapat dikuasai dan dikembangkan oleh sumber daya manusia dalam negeri, termasuk di tingkat desa.

Peran Desa dalam Energi Terbarukan

Nurdin Tampubolon juga menyoroti besarnya potensi energi terbarukan di wilayah pedesaan. Jika dimaksimalkan, energi dari desa bahkan dapat melampaui kontribusi energi fosil seperti batu bara.

Karena itu, dia mengajak pemerintah untuk mengubah pola pikir dalam pengembangan energi nasional, dengan lebih melibatkan talenta lokal dan mengurangi ketergantungan pada pihak asing.

"Momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun energi terbarukan berbasis teknologi anak bangsa," tukas Nurdin Tampubolon.

x|close