Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Koperasi (Kemenkop) menyatakan gula yang dihasilkan dari panen petani tebu yang dikelola melalui koperasi berpeluang dipasarkan lewat gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri gula nasional.
Dalam Rembuk Petani Tebu Rakyat yang berlangsung di Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 15 Juli 2026, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan pemerintah terus mendorong keterlibatan koperasi dalam mendukung terwujudnya swasembada pangan, termasuk pada komoditas gula.
Menurut Ferry, peningkatan produksi gula nasional perlu dibarengi dengan konsolidasi petani tebu melalui koperasi serta penguatan tata kelola agar produktivitas dan kesejahteraan petani semakin meningkat.
"Koperasi bisa membantu kegiatan di sektor kehidupan masyarakat, khususnya di sektor pertanian, tanaman pangan, dan perkebunan," kata Ferry dalam keterangan pers.
Baca Juga: Menkop Targetkan Peresmian KDMP Sektor CPO dan PLTS pada Agustus 2026
Ia menjelaskan hasil panen tebu yang telah dihimpun oleh koperasi nantinya akan diserap oleh PT PG Rajawali I, anak usaha BUMN pangan ID Food. Dengan mekanisme tersebut, petani diharapkan memperoleh kepastian pasar sekaligus harga yang lebih terjamin.
Setelah diproses menjadi gula konsumsi, produk tersebut selanjutnya direncanakan dipasarkan melalui gerai-gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
"Kita akan memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan Kementerian Pertanian untuk mencarikan solusi terhadap kegiatan pertanian, tanaman pangan, hortikultura, dan sebagainya," ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan, Kemenkop juga akan terus mendampingi transformasi tata kelola koperasi petani tebu. Penguatan kapasitas koperasi itu akan dilakukan melalui pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi.
Baca Juga: PT GMM Jaga Kondusivitas saat Petani Tebu Sampaikan Aspirasi di Blora
Ferry menambahkan, LPDB tidak hanya berperan dalam menyalurkan pembiayaan, tetapi juga memberikan inkubasi, pendampingan, serta penguatan tata kelola agar koperasi petani tebu mampu berkembang menjadi lebih produktif dan profesional.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyampaikan bahwa kebutuhan gula konsumsi nasional saat ini sudah dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Namun, untuk gula rafinasi yang digunakan sektor industri, Indonesia masih mengandalkan impor.
Ia mengatakan pemerintah menargetkan seluruh kebutuhan gula nasional, termasuk untuk mendukung pengembangan bioetanol E10 hingga E20, ke depan dapat dipenuhi melalui produksi tebu domestik.
"Ini saatnya kebangkitan pertanian yang dibungkus melalui koperasi. Presiden sangat fokus agar produktivitas pertanian tinggi, petaninya sejahtera, dan jalur bisnisnya bisa dikelola melalui koperasi," kata Sudaryono.
(Sumber: Antara)
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menjawab pertanyaan media (Antara)