Inflasi April 2026 Tercatat 0,13 Persen, Dipicu Tarif Pesawat dan BBM

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Mei 2026, 08:00
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
ilustrasi pesawat/Ist ilustrasi pesawat/Ist

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pada April 2026 terjadi inflasi sebesar 0,13 persen secara bulanan (m-to-m), atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,95 pada Maret 2026 menjadi 111,09 pada April 2026. 

Sementara itu, inflasi tahun kalender (y-to-d) tercatat sebesar 1,06 persen.  

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar pada April 2026, dengan andil sebesar 0,12 persen dan tingkat inflasi sebesar 0,99 persen. 

Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,20 persen dengan andil deflasi sebesar 0,06 persen.  

"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi antara lain tarif angkutan udara dan bensin. Tarif angkutan udara memberikan andil inflasi sebesar 0,11 persen sedangkan bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen," ucap Ateng.

Baca juga: Kepala BPS: Mobilitas Masyarakat Sepanjang Kuartal I Meningkat

Ia menambahkan, komoditas lain yang juga memberikan andil inflasi antara lain adalah minyak goreng sebesar 0,05 persen, tomat sebesar 0,03 persen, beras serta nasi dengan lauk masing-masing sebesar 0,02 persen.   

Selanjutnya, BPS juga mencatat beberapa komoditas yang menjadi peredam inflasi seperti daging ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit dan telur ayam ras.    

“Beberapa komoditas juga ada yang memberikan andil deflasi diantaranya daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen,” ungkap Ateng.   

Berdasarkan komponen, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,23 persen dengan andil sebesar 0,15 persen. Komoditas yang memberikan andil terbesar pada komponen ini antara lain minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, ayam goreng, laptop/notebook, dan gula pasir.  

Selain itu, komponen harga yang diatur pemerintah juga mengalami inflasi sebesar 0,69 persen dengan andil sebesar 0,13 persen. Inflasi pada komponen ini terutama dipicu oleh kenaikan tarif angkutan udara, harga bensin, bahan bakar rumah tangga, serta sigaret kretek mesin (SKM).  

Sebaliknya, komponen bergejolak mencatat deflasi sebesar 0,88 persen dengan andil deflasi sebesar 0,15 persen. Deflasi ini didorong oleh penurunan harga komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, dan cabai merah.  

Menurut wilayah, secara bulanan sebanyak 30 provinsi mengalami inflasi, sedangkan 8 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat sebesar 2,00 persen, sementara deflasi terdalam terjadi di Provinsi Maluku sebesar 0,17 persen.  

Secara tahunan (y-on-y), inflasi April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan April 2025 sebesar 1,95 persen. 

Baca juga: BPS: 686 Ribu Rumah Tangga di Papua Masih Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil inflasi 0,90 persen dengan tingkat inflasi 3,06 persen. 

Diikuti oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan andil inflasi 0,77 persen dengan tingkat inflasi mencapai 11,43 persen. Inflasi kelompok ini utamanya didorong oleh komoditas  emas perhiasan.   

Berdasarkan komponen, seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan. Inflasi tertinggi terjadi pada komponen begejolak, yaitu 3,37 persen dengan andil inflasi 0,56 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi diantaranya daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras.  

Selanjutnya, komponen inti mengalami inflasi sebesar 2,44 persen dengan andil inflasi 1,56 persen, yang didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, dan biaya kuliah akademi/perguruan tinggi. 

Sedangkan komponen diatur pemerintah mengalami inflasi yang lebih rendah sebesar 1,53 persen dengan andil inflasi 0,30 persen, terutama akibat kenaikan harga tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret kretek tangan (SKT). 

Menurut wilayah, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 5,00 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Lampung sebesar 0,53 persen.

x|close